Mappettuada, Janji Sakral Sebelum Pernikahan Bugis-Makassar

Ilustrasi - (foto by Gemini AI)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Suku Bugis Makassar dikenal kaya akan budaya, mulai dari bahasa, busana, perhiasan, kuliner, hingga tradisi yang masih lestari sampai hari ini. Salah satu yang paling istimewa adalah Mappettuada, prosesi lamaran sebelum pernikahan adat Bugis- Makassar di Sulawesi Selatan.

Dalam catatan Wikipedia, mappettuada adalah momen resmi ketika dua keluarga besar bertemu untuk menyatakan kesepakatan pernikahan. Nama ini berasal dari kata mappettu (memutuskan) dan ada (perkataan), sehingga bermakna memutuskan kata atau menetapkan keputusan final tentang rencana pernikahan.

Lebih dari sekadar lamaran, prosesi ini menjadi perjanjian resmi kedua belah pihak. Di dalamnya terkandung nilai siri' na pacce (harga diri dan kepedulian) serta sipakatau* (saling menghormati) yang menjadi pegangan hidup masyarakat Bugis.

Biasanya keluarga mempelai pria datang berkunjung ke kediaman mempelai perempuan. Kedua keluarga tampil rapi dalam busana formal, dengan sarung lipa' sabbe' (sarung sutra khas) sebagai bawahan, baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Sebelum mappettuada dilakukan, keluarga calon mempelai pria terlebih dahulu melakukan prosesi mammanu' - manu' atau penjajakan antar keluarga.

Salah satu hal paling menarik dari Mappettuada adalah jamuan tamunya. Beragam kue tradisional Bugis disajikan di atas bosara, wadah saji khas yang cantik. Cita rasanya yang manis bukan kebetulan, melainkan doa agar rumah tangga kedua mempelai kelak semanis hidangan yang disuguhkan.