AS Tuduh Rusia dan China Lindungi Iran di PBB
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Utusan Amerika Serikat untuk PBB,
Mike Waltz, menuding Rusia dan China sengaja menghalangi kinerja badan pengawas
sanksi Iran. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk melindungi Teheran
dari pengawasan internasional.
Dalam pertemuan wajib Komite Sanksi 1737 di Dewan Keamanan
PBB, Kamis (12/3), Waltz mendesak dihentikannya formalitas yang menghambat
proses pengawasan.
"Kenyataannya adalah Rusia dan China tidak menginginkan
komite ini karena mereka akan terus melindungi mitra mereka, Iran," ujar
Waltz di hadapan anggota Dewan Keamanan.
Dibentuk pada Desember 2006, komite tersebut diwajibkan
untuk melaporkan kegiatannya kepada Dewan setiap 90 hari.
Sesi tersebut dibuka dengan utusan Rusia untuk PBB, Vassily
Nebenzia, mendesak pemungutan suara prosedural untuk menolak pertemuan
tersebut.
Nebenzia berpendapat bahwa E3, atau Inggris, Prancis, dan
Jerman, tidak berhak untuk mengaktifkan mekanisme "snapback" dan
mengkritik AS karena menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama
(JCPOA) pada 2018.
Utusan China, Fu Cong, menyatakan dukungan untuk mosi
prosedural tersebut, menyebut pengaktifan mekanisme snapback oleh E3 sebagai
tindakan yang cacat secara prosedural dan hukum.
Pada 28 Agustus 2025, E3 mengumumkan pengaktifan mekanisme
"snapback" untuk memberlakukan kembali sanksi PBB terhadap Iran,
menuduh Teheran tidak mematuhi kesepakatan nuklir 2015, setelah penarikan
sepihak AS dari kesepakatan tersebut pada 2018.
Israel, AS, dan beberapa negara Eropa menuduh Iran berupaya
mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran bersikeras bahwa program
nuklirnya murni damai, ditujukan untuk pembangkit listrik dan penggunaan sipil.
Waltz menolak tuduhan tersebut, mengatakan bahwa langkah
"penghalangan" itu "didasarkan pada penafsiran ulang peristiwa
yang tidak jujur dan tidak berdasar," dan Rusia dan China telah
mempertahankan hubungan perdagangan militer dengan Iran yang melanggar resolusi
PBB.
"Mengingat hal itu, Amerika Serikat akan terus berupaya
untuk memastikan Iran tidak lagi dapat menyandera dunia dengan program rudal,
drone, dan tentu saja bukan program nuklirnya," kata Waltz kepada Dewan.
Nebenzia menuduh AS, yang saat ini menjabat sebagai presiden
Dewan Keamanan, melakukan "pelanggaran hukum."
"Federasi Rusia tidak melihat alasan untuk mengaktifkan
kembali komite Dewan Keamanan 1737," katanya.
"Kami sangat menyesalkan bahwa delegasi Barat
bersikeras untuk mencoba melegalkan klaim mereka," katanya.
Dia mengemukakan bahwa Rusia dan China "telah melakukan
segala upaya" untuk menghindari situasi hukum dan prosedural yang kompleks
selama masa perselisihan yang intens tentang mekanisme "pengaktifan
kembali" (snapback).
Nebenzia berpendapat bahwa AS "tidak memiliki dasar
hukum untuk mengangkat isu pengaktifan kembali resolusi anti-Iran Dewan Keamanan
dan pemulihan komite 1737."
Utusan China Fu Cong mengatakan dia tidak akan berkomentar
tentang komite 1737.
"Amerika Serikat dan Israel harus segera menghentikan
operasi militer mereka, menahan diri dari menyerang fasilitas nuklir Iran di
bawah pengawasan IAEA (Badan Energi Atom Internasional), menghindari
peningkatan ketegangan lebih lanjut dan mencegah konflik menyebar ke seluruh wilayah
Timur Tengah," katanya.
Dengan menyerukan kepada Dewan Keamanan untuk "membantu
para pihak membangun kepercayaan, jembatani perbedaan," Fu mendesak pula
agar "negara tertentu" untuk "berhenti memanipulasi Dewan untuk
tujuan politik."
Sumber: ANTARA/Anadolu
