Kami Rita Sherpa, Manusia yang 32 Kali Taklukkan Atap Dunia
Kami Rita Sherpa - (foto by Kami Rita Sherpa/FB)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi sebagian besar pendaki dunia, menginjakkan kaki di puncak Gunung Everest adalah pencapaian sekali seumur hidup yang membutuhkan persiapan bertahun-tahun, keberanian luar biasa, dan pertaruhan nyawa.
Namun bagi seorang pria asal desa Thame, Nepal, jalur es nan terjal di ketinggian 8.848 meter itu tak ubahnya halaman rumah sendiri.
Ia adalah Kami Rita Sherpa, sosok legendaris yang dijuluki dunia sebagai "Everest Man". Dedikasi dan ketangguhannya di medan ekstrem Himalaya terus mengukir tinta emas dalam sejarah pendakian dunia.
Terbukti dengan pencapaian spektakulernya menaklukkan puncak Everest sebanyak 32 kali, sebuah rekor pencapaian terbanyak sepanjang sejarah manusia.
Kisah hubungan Kami Rita dengan Everest dimulai jauh sebelum namanya mendunia. Lahir pada tahun 1970 di Solukhumbu—jantung wilayah suku Sherpa—ia tumbuh dalam keluarga yang napas hidupnya menyatu dengan pegunungan.
Dikutip dari berbagai sumber, ayahnya merupakan salah satu pemandu Sherpa profesional generasi awal setelah Everest dibuka untuk pendaki asing pada dekade 1950-an.
Kami Rita memulai kariernya di gunung bukan langsung sebagai pemandu utama, melainkan dari posisi paling bawah: seorang porter penanggung beban pada tahun 1992.
Ia memikul perlengkapan, menyusuri celah es Khumbu Icefall, dan belajar membaca bahasa alam Himalaya. Baru pada 13 Mei 1994, di usia 24 tahun, ia berhasil berdiri di puncak Everest untuk pertama kalinya.
Sejak saat itu, ia konsisten kembali mendaki puncak tertinggi di bumi tersebut, memandu puluhan pendaki mancanegara menembus Death Zone (zona kematian di atas ketinggian 8.000 meter) tempat oksigen begitu tipis dan angin membeku menghantam tanpa ampun.
Tak jarang dalam satu musim pendakian musim semi, ia melakukan pendakian ganda (double ascents) hingga mencapai puncak dua kali hanya dalam hitungan hari.
Puncak demi puncak ia lampaui hingga akhirnya menorehkan angka 32 kali pendakian sukses—sebuah rekor terbanyak dalam sejarah yang terus memegang tahta puncak dunia dan kian mustahil tertandingi.
Di balik catatan rekor dunianya yang luar biasa, Kami Rita tetap menampilkan keteladanan yang rendah hati. Baginya, setiap langkah di gunung adalah soal tanggung jawab dan rasa hormat terhadap alam.
"Setiap pendakian selalu menghadirkan tantangan baru, mulai dari perubahan jalur, cuaca yang tak menentu, hingga dinamika tim. Kelihatannya mungkin mudah bagi orang luar, tetapi di lapangan ini sangat berat," ungkapnya mengenai tantangan yang ia hadapi di Himalaya.
Bagi masyarakat pendukung ekspedisi di Nepal, peran pemandu Sherpa adalah tulang punggung utama keselamatan. Mereka adalah pihak yang memasang tali pengaman (rope fixing), membawa tabung oksigen, mendirikan kemah tinggi, dan memastikan para pendaki tamu bisa kembali ke keluarga mereka dengan selamat.
Kami Rita sering menegaskan bahwa rekor 32 kali pendakiannya bukan semata-mata untuk kebanggaan pribadi, melainkan untuk mengangkat harkat komunitas Sherpa dan mengharumkan nama Nepal di mata internasional.
Selama lebih dari tiga dekade berkarier, Kami Rita telah menyaksikan perubahan besar di Everest. Jika pada awal kariernya di pertengahan 1990-an jumlah pendaki harian masih sangat terbatas, kini ratusan orang memadati jalur pendakian setiap musim semi.
Selain Everest, Kami Rita juga telah menaklukkan deretan puncak raksasa dunia lainnya yang berada di atas ketinggian 8.000 meter, seperti K2, Cho Oyu, Lhotse, dan Manaslu.
Keteguhan fisik, kecerdasan navigasi, serta ketenangan mental di bawah tekanan ekstrem menjadikan sosoknya sebagai simbol ketahanan manusia.
Setiap kali ia kembali menapakkan kakinya di atap dunia, Kami Rita bukan hanya memperbarui rekor 32 kalinya, tetapi juga membuktikan bahwa batas kemampuan manusia selalu bisa diperluas dengan kerja keras, kerendahan hati, dan rasa cinta pada apa yang dijalani.
