AS Larang Penerbagan Maskapai Iran, Berlaku 23 September 2026
Ilustrasi-Pesawat Airbus A310 milik Iran Air - (foto by Wikimedia Commons/Mark Harkin)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Amerika Serikat memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menargetkan seluruh maskapai penerbangan negara tersebut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan maskapai Iran akan menghadapi hambatan untuk menjalankan penerbangan internasional mulai Rabu (23/9).
Pernyataan tersebut disampaikan Bessent dalam wawancara dengan CNBC pada Senin (21/9). Ia juga memperingatkan perusahaan asing yang tetap memberikan layanan kepada maskapai Iran dapat terkena sanksi sekunder.
“Pada tanggal 23 September, semua maskapai penerbangan Iran akan dihentikan operasionalnya di seluruh dunia,” ujar Bessent kepada CNBC, Senin (21/9), dikutip dari Al Jazeera.
Ancaman sanksi tidak hanya menyasar operator penerbangan Iran. Washington juga memperingatkan bandara, pemasok bahan bakar, perusahaan penjualan tiket, serta penyedia layanan lain yang membantu maskapai Iran beroperasi di luar negeri.
“Jika mereka mendarat, Anda tidak boleh menyediakan bahan bakar, tidak boleh memberikan layanan pendaratan, dan tidak boleh menjual tiket kepada mereka; jika melanggar, Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar,” tegas Bessent.
Langkah terbaru tersebut menjadi bagian dari kampanye tekanan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Teheran.
Sebelumnya, pada 8 September 2026, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap 36 target yang berkaitan dengan sektor penerbangan Iran. Di dalamnya termasuk 27 maskapai Iran yang sebelumnya belum dikenai sanksi oleh Washington.
Departemen Keuangan AS menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari Operation Economic Outcast. Menurut Washington, kampanye itu ditujukan untuk memutus jaringan ekonomi dan keuangan yang dianggap menopang pemerintahan Iran.
Sanksi tersebut juga menyasar perusahaan dan perantara di luar Iran yang membantu sektor penerbangan negara itu. Washington memperingatkan pihak yang memberikan dukungan finansial, logistik, maupun layanan kepada maskapai Iran dapat menghadapi pembatasan akses terhadap sistem keuangan AS.
Sektor penerbangan Iran telah menghadapi berbagai pembatasan selama bertahun-tahun. Sanksi internasional membuat maskapai di negara tersebut kesulitan memperoleh pesawat, suku cadang, teknologi, serta layanan perawatan dari sejumlah pemasok asing.
Kebijakan terbaru AS memperluas tekanan tersebut dengan menyasar perusahaan yang berada di luar Iran dan masih menyediakan layanan yang dibutuhkan maskapai Iran untuk menjalankan penerbangan internasional.
Ancaman tersebut mencakup layanan penting seperti pengisian bahan bakar, fasilitas pendaratan, hingga penjualan tiket. Dengan demikian, maskapai Iran berpotensi menghadapi kesulitan mempertahankan operasional penerbangan internasional jika perusahaan asing mematuhi ancaman sanksi Washington.
Salah satu instrumen utama Washington dalam kebijakan terbaru ini adalah sanksi sekunder. Mekanisme tersebut memungkinkan AS memberikan tekanan kepada perusahaan atau pihak asing yang tetap melakukan aktivitas tertentu dengan entitas Iran yang menjadi target sanksi.
Dalam konteks penerbangan, ancaman Bessent secara khusus diarahkan kepada penyedia layanan yang membantu maskapai Iran tetap beroperasi di luar negeri.
Pemerintah AS sebelumnya juga telah memperluas penggunaan sanksi terhadap jaringan yang membantu Iran menghindari pembatasan ekonomi. Pada September 2026, Departemen Keuangan AS antara lain menjatuhkan sanksi terhadap lembaga keuangan Rusia yang dituduh membantu Iran dalam penghindaran sanksi.
Di tengah perluasan sanksi tersebut, Bessent juga mengatakan China terlibat dalam pembicaraan mengenai tekanan ekonomi terhadap Iran.
Menurut Bessent, pejabat China "sangat terlibat" dalam pembahasan mengenai implementasi sanksi AS terhadap Iran. Pernyataan tersebut muncul setelah pembicaraannya dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.
Bessent juga mengatakan Washington melakukan pembicaraan dengan otoritas keuangan China terkait kepatuhan terhadap sanksi Iran.
Kebijakan terhadap maskapai Iran ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran tidak hanya diarahkan pada perusahaan di dalam Iran, tetapi juga pada jaringan perusahaan dan penyedia jasa di luar negeri yang masih berhubungan dengan sektor tersebut.
