Trump Isyaratkan Kuba Target Berikutnya Setelah Iran

Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Kuba - (foto by VisasNews)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu perhatian global setelah melontarkan pernyataan kontroversial terkait Kuba

Kantor Berita Nasional ANTARA pada Minggu (29/3) melaporkan pernyataan Trump tersebut disampaikan dalam sebuah forum bisnis internasional yang dihelat pada Jumat (27/3) yang  mengisyaratkan bahwa Kuba bisa menjadi target berikutnya setelah Iran.

Pernyataan Trump itu disampaikan saat ia menyinggung keberhasilan operasi militer Amerika Serikat di sejumlah negara, termasuk Venezuela dan Iran.

“Saya membangun militer yang hebat ini. Saya berkata, 'Anda tidak akan pernah perlu menggunakannya,' tetapi terkadang Anda harus menggunakannya. Dan Kuba adalah target selanjutnya,” kata Trump dikutip media Internasional, The Wall Street Journal.

Namun, tak lama setelah itu, ia mencoba meredam ucapannya dengan nada setengah bercanda.

"Tapi anggap saja saya tidak mengatakan itu. Tolong, anggap saya tidak mengatakannya. Tolong, tolong, tolong, media, tolong abaikan pernyataan itu," tambahnya, 

Meski tidak memberikan rincian konkret, pernyataan Trump memperkuat sinyal kebijakan agresif Washington terhadap Havana. 

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahannya juga diketahui membuka jalur komunikasi dengan pihak Kuba di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Menanggapi situasi tersebut, Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menegaskan bahwa negaranya terbuka untuk dialog, namun tidak akan mengorbankan prinsip utama negara.

Dalam wawancara dengan media berbahasa Spanyol di Havana, ia menyampaikan bahwa berbagai isu bilateral memang bisa dibahas bersama Amerika Serikat.

“Kami dapat membahas semuanya, tetapi kedaulatan kami harus dihormati. Kemerdekaan dan sistem politik kami tidak pernah terbuka untuk diskusi,” katanya.

Dia juga menyebut sejumlah isu yang dapat menjadi agenda pembahasan, seperti investasi asing, migrasi, perdagangan narkoba, kontra-terorisme, perlindungan lingkungan, hingga kerja sama di bidang sains dan pendidikan.⁹

Hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba memang telah lama diwarnai ketegangan sejak era Perang Dingin. Pernyataan terbaru Trump dinilai berpotensi memperkeruh situasi, terutama di tengah kondisi ekonomi Kuba yang sedang tertekan.

Sejumlah pengamat menilai, meski belum ada kebijakan resmi terkait langkah terhadap Kuba, retorika Trump menunjukkan arah kebijakan luar negeri yang lebih tegas dan konfrontatif.

Di sisi lain, Kuba menegaskan tetap membuka dialog, tetapi kedaulatan adalah harga mati.