Trump Tutup Jalur Negosiasi dengan Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump - (foto by Sputnik)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa negaranya saat ini menutup pintu dialog dengan Iran. Pernyataan ini menyusul eskalasi konflik militer yang kian memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur laut strategis Selat Hormuz.

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Fox News, Trump secara blak-blakan menyatakan bahwa AS tidak akan melakukan pembicaraan damai dalam waktu dekat.

"Untuk saat ini saya tidak ingin berunding. Saya tegaskan, kami tidak bernegosiasi. Tiga hari yang lalu, kami memiliki kesepakatan," ujar Trump, dikutip dari Antara, Rabu (15/7).

Ketegangan kedua negara mencapai titik didih setelah pasukan AS meluncurkan rangkaian serangan udara ke wilayah Iran sejak 8 Juli 2026. 

Komando Pusat AS mengklaim, serangan tersebut merupakan respons langsung atas tindakan agresif Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Tak tinggal diam, pasukan Iran membalas dengan menggempur sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di beberapa negara Timur Tengah.

Sebagai langkah balasan drastis, pihak Teheran resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Minggu lalu. Iran menegaskan jalur perdagangan minyak dunia tersebut akan tetap ditutup hingga AS menghentikan seluruh campur tangan militernya di kawasan tersebut.

Menanggapi ancaman penutupan jalur laut itu, sehari sebelum wawancaranya (13/7/2026), Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat siap mengambil alih peran krusial di wilayah tersebut.

Trump menegaskan bahwa AS akan bertindak sebagai "penjaga" Selat Hormuz untuk memastikan keamanan maritim. Selain itu, ia juga mengumumkan rencana besar AS untuk kembali menerapkan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan utama milik Iran, sebuah langkah yang diprediksi akan semakin melumpuhkan perekonomian negara para mullah tersebut.

Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran saat ini berada dalam ketidakpastian setelah nota kesepakatan damai (MoU) yang disepakati pada bulan Juni lalu kembali dilanggar. Kedua negara kembali terlibat dalam konflik terbuka dan saling serang di kawasan Timur Tengah.

Sumber: Sputnik/Antara