Gaza Disebut Tempat Paling Berbahaya bagi Jurnalis
Para pelayat menghadiri pemakaman jurnalis Palestina Mohammed Abu Hattab, yang tewas dalam serangan Israel, pada November 2023 lalu - (foto by REUTERS/Mohammed Salem)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi keselamatan jurnalis dan pekerja kemanusiaan di Jalur Gaza. Ia menyebut wilayah tersebut kini menjadi tempat paling berbahaya di dunia bagi mereka yang menjalankan tugas peliputan dan misi kemanusiaan.
Dalam pernyataannya pada Ahad (25/1), Lazzarini mengungkapkan bahwa lebih dari 230 jurnalis telah gugur sejak konflik berkepanjangan melanda Gaza. Angka tersebut mencerminkan tingginya risiko yang dihadapi para pewarta dalam menyampaikan informasi langsung dari wilayah konflik.
Menurut situs resmi UNRWA, Lazzarini menegaskan bahwa pembatasan dan pelarangan masuknya jurnalis ke Gaza justru memperburuk situasi informasi global. Langkah tersebut, kata dia, berpotensi memperkuat kampanye disinformasi serta mendorong berkembangnya narasi ekstremis.
"Jurnalis Palestina adalah mata dan telinga kami dalam meliput kengerian perang di Gaza. Mereka menggambarkan kekuatan manusia dan pengaruhnya dan bekerja dengan keberanian dan ketabahan meski menghadapi kesulitan," ujar Lazzarini.
Ia juga menekankan bahwa para jurnalis bekerja berdampingan dengan pekerja kemanusiaan, menghadapi ancaman serupa di tengah situasi konflik yang terus memburuk. Kehadiran mereka dinilai krusial dalam mendokumentasikan kondisi nyata di lapangan, termasuk dampak kemanusiaan yang dialami warga sipil.
Lebih lanjut, Lazzarini menyebut bahwa pelarangan jurnalis memasuki Gaza merupakan upaya untuk mendiskreditkan laporan langsung dan kesaksian organisasi kemanusiaan internasional. Menurutnya, tindakan tersebut juga berkontribusi pada upaya merendahkan martabat rakyat Palestina di mata dunia internasional.
UNRWA kembali menyerukan pentingnya perlindungan terhadap jurnalis dan pekerja kemanusiaan, serta menekankan bahwa kebebasan pers merupakan elemen vital dalam memastikan transparansi dan akuntabilitas di wilayah konflik.
Sumber: WAFA - ANTARA
