KOLOM ANDI SURUJI: Menakar Prospek Gencatan Senjata AmIs-Iran

Ilustrasi Selat Hormuz - (foto by Wikipedia)

DUNIA bernapas lega sedikit dari ketegangan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa mereka, AS dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata untuk menuju meja perundingan dalam dua pekan.

Pasar valuta langsung bereaksi positif. Relatif stabil. Setidaknya volatilitas menurun. Bahkan nilai tukar rupiah menguat tipis. 

Pasar saham juga demikian. Langsung ramai.  Indeks harga saham gabungan di bursa efek Indonesia di Jakarta melonjak signifikan. Semua sektor saham hijau. Artinya minat beli saham kembali menguat.

Pasar valuta dan pasar saham bereaksi karena sentimen positif. Investor melihat prospek ekonomi bakal membaik jika perang berhenti.

Begitulah pasar. Bereaksi berdasarkan interpretasi teknikal dan kalkulasi fundamental ekonomi dan nasib perusahaan. Investor membeli atau menjual prospek, sementara prospek ditentukan stabilitas. Perang hanya menghadirkan instabilitas. 

Keputusan investor, pelaku pasar, harus mendahului gerak kurva (beyond the curve). Walaupun kesalahan karena akurasi kalkulasi dan interpretasi lemah bisa membawa kerugian. 

Jeda perang tentu baik. Persoalan lebih krusial ketika tawaran kelak diletakkan dan dipaparkan di atas meja perundingan. Solusi semua menang (win-win solutions) dinantikan dunia.

Ada yang menilai Israel ditinggalkan Amerika dalam proses perundingan dengan Iran, yang didahului dengan gencatan senjata. Bisa jadi?

Tinta kesepakatan gencatan sejata masih basah, pintu ruangan perundingan belum dibuka, Israel sudah berulah. Faktanya, Israel masih menghantam Lebanon. 

Iran pun mengancam akan keluar dari perjanjian gencatan senjata jika Israel terus melanjutkan serangan ke Lebanon.

Seorang pejabat tinggi Iran kepada Al Jazeera mengatakan, "Iran akan menghukum Israel" atas pelanggaran tersebut. Ia menambahkan, Israel dikenal sering melanggar komitmen, dan "tidak ada yang bisa menghentikannya selain peluru."

Sumber militer Iran kepada Tasnim News Agency menyebutkan bahwa Teheran sedang mempertimbangkan keľuar dari kesepakatan dua minggu itu. Mereka menegaskan, penghentian pertempuran di semua front, termasuk Lebanon, sebelumnya telah disepakati oleh AS sebagai bagian dari perjanjian.

Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz kembali dihentikan setelah serangan Israel ke Lebanon. Sejak gencatan senjata ditandatangani, hanya dua kapal tanker yang diberi izin melintas oleh otoritas Iran.

Dalam perang segalanya bisa terjadi. Amerika dan Israel dikenal sering melanggar kesepakatan dengan lawannya. Memaksakan kehendak untuk mendapatkan kemenangan sepihak. 

Tapi kali ini AmIs menghadapi Iran yang telah berpengalaman berperang. Memerangi kemiskinan dan ketertinggalan di bawah "hukum ketidakadilan dunia". 

Embargo lebih 40 tahun, menjadikan Iran bangsa kuat. Dikucilkan dalam perdagangan global membuat Iran tidak banyak "teman". 

Orang Iran bilang: kalian berperang untuk menguasai dunia, kami berperang untuk syahid. 

Pada titik ini, prospek gencatan senjata, geopolitik dan ekonomi bisa menjadi kabur lagi. Dunia kembali tegang.