10.000 Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Banjir Nepal

Ilustrasi daerah terdampak bencana banjir bandang di perbatasan China dan Nepal - (foto by ANTARA/Anadolu)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Sedikitnya 10.000 keluarga diperkirakan kehilangan tempat tinggal setelah banjir bandang dahsyat menerjang sejumlah wilayah Nepal. Besarnya dampak bencana membuat Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menggambarkan situasi tersebut sebagai "katastropik".

Kerusakan parah juga membuat ribuan keluarga terdampak kesulitan mendapatkan bantuan. Akses menuju sejumlah wilayah terputus setelah jalan dan jembatan hancur akibat derasnya arus banjir.

"Situasinya sangat parah dan menimbulkan kerusakan besar," kata juru bicara IFRC Tommaso Della Longa kepada CNN.

Menurut Della Longa, sedikitnya 10.000 keluarga diperkirakan kini tidak memiliki tempat tinggal. Kondisi di lapangan membuat proses penjangkauan korban menjadi sangat sulit.

Selain infrastruktur yang rusak, jaringan komunikasi di sejumlah daerah juga terputus. Beberapa komunitas bahkan hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter karena akses darat tidak lagi memungkinkan.

Skala kehancuran yang terjadi turut terlihat dari banyaknya permukiman yang terdampak. Kepala Delegasi IFRC di Nepal David Fisher mengatakan kepada BBC bahwa sejumlah desa dan pasar bahkan hilang akibat banjir bandang tersebut.

Kondisi ini membuat kebutuhan tempat tinggal sementara menjadi salah satu persoalan mendesak bagi ribuan keluarga yang kehilangan rumah.

Bencana tidak hanya merusak bangunan tempat tinggal, tetapi juga memutus akses masyarakat terhadap berbagai fasilitas dan pusat aktivitas ekonomi. Kerusakan jalan dan jembatan semakin menyulitkan warga untuk keluar dari wilayah terdampak maupun menerima bantuan.

Berdasarkan citra satelit, banjir bandang kemungkinan dipicu oleh bongkahan es berukuran besar yang terlepas dari gletser di kawasan Himalaya.

Runtuhan tersebut diperkirakan terjadi sekitar 20 kilometer atau 12,4 mil di timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi.

Material berupa es dan bebatuan dalam jumlah besar kemudian jatuh ke Sungai Bhotekoshi. Aliran air yang meningkat secara tiba-tiba memicu banjir bandang dengan kekuatan besar dan menerjang wilayah di sekitarnya.

Banjir dari sisi Nepal juga dilaporkan mencapai gerbang perbatasan Gyirong Port di wilayah Gyirong, Tibet, China, pada Rabu (26/8) pagi waktu setempat.

Hingga Kamis (27/8), dampak bencana masih terus ditangani oleh tim penyelamat dan aparat Nepal. Selain keluarga yang kehilangan tempat tinggal, ratusan orang dilaporkan terluka dan ratusan lainnya meninggal dunia akibat banjir bandang serta longsor.

Sebanyak 8.348 personel kepolisian dikerahkan ke berbagai wilayah terdampak untuk menjalankan operasi penyelamatan dan memberikan bantuan kepada masyarakat.

Di sisi lain, 18 personel kepolisian masih belum diketahui keberadaannya. Operasi pencarian korban hilang terus dilakukan di tengah kondisi medan yang sulit.

Bagi sekitar 10.000 keluarga yang kehilangan tempat tinggal, tantangan berikutnya adalah bertahan setelah rumah dan lingkungan tempat mereka tinggal rusak atau hilang diterjang bencana

Sumber: Anadolu/Antara