Putra Pemimpin Hamas Tewas Akibat Serangan Israel

Azzam Khalil al-Hayya, putra pemimpin biro politik Hamas, Khalil al-Hayya - (Foto by: X)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Serangan udara Israel di Kota Gaza menewaskan Azzam Khalil al-Hayya, putra pemimpin sekaligus kepala negosiator Hamas, Khalil Al-Hayya, di tengah berlangsungnya negosiasi terkait masa depan Gaza.

Sumber di Rumah Sakit al-Shifa mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan pada Rabu (6/5/2026) menyebabkan Azzam mengalami luka serius. Ia kemudian meninggal dunia pada Kamis (7/5/2026) akibat luka-lukanya.

Melansir Kompas.com, pejabat senior Hamas, Basim Naim, mengonfirmasi kematian Azzam. Sebelumnya, Khalil Al-Hayya juga menyebut putra keempatnya terluka dalam serangan tersebut.

Khalil Al-Hayya diketahui menjadi kepala negosiator Hamas dalam perundingan yang dimediasi Amerika Serikat mengenai masa depan Gaza. Ia disebut telah beberapa kali selamat dari upaya pembunuhan Israel, termasuk di Doha tahun lalu yang menewaskan salah satu putranya.

Dua putra Al-Hayya lainnya juga dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Gaza masing-masing pada 2008 dan 2014.

Serangan terbaru terjadi saat para pemimpin Hamas menggelar pembicaraan di Kairo bersama mediator regional dan utusan Dewan Perdamaian, Nickolay Mladenov, guna membahas kelanjutan gencatan senjata dengan Israel.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera usai serangan, Al-Hayya menuduh Israel berupaya menggagalkan proses mediasi dan rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait Gaza.

“Serangan dan pelanggaran yang dilakukan Zionis ini dengan jelas menunjukkan bahwa pihak pendudukan tidak ingin mematuhi gencatan senjata atau tahap pertama,” kata Hayya.

Rencana yang disebut disepakati Israel dan Hamas pada Oktober itu mencakup penarikan pasukan Israel dari Gaza serta dimulainya rekonstruksi wilayah dengan syarat Hamas meletakkan senjata.

Namun, pelucutan senjata Hamas masih menjadi poin utama yang diperdebatkan dalam negosiasi.Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya tidak akan membahas implementasi fase kedua sebelum Israel memenuhi kewajiban fase pertama, termasuk penghentian total serangan.

Sementara itu, Israel menyatakan operasi militernya dilakukan untuk menggagalkan upaya Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lainnya melancarkan serangan terhadap pasukannya.