Kisah Comeback Terbesar dalam Sejarah Piala Dunia

Pemain Timnas Portugal saat membalikkan keadaan atas Korea Utata - (foto by FIFA)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Sepak bola selalu punya cara untuk membuktikan bahwa keunggulan di atas papan skor tidak pernah bersifat absolut sebelum peluit panjang berbunyi.

Sepanjang sejarah gelaran Piala Dunia FIFA, drama membalikkan keadaan (comeback) bukan sekadar bumbu pemanis, melainkan bukti otentik bagaimana mentalitas juara mampu meruntuhkan kemustahilan.

Hingga saat ini, Austria dan Portugal masih memegang rekor bersama sebagai pemilik kemenangan comeback terbesar dalam sejarah Piala Dunia.

Kedua negara secara luar biasa mampu bangkit dan memenangi pertandingan setelah sempat tertinggal tiga gol terlebih dahulu.

Sejarah mencatat, momen magis pertama terjadi pada babak perempat final Piala Dunia 1954 di Swiss. Bermain di hadapan publik sendiri, timnas Swiss tampil menggebrak dan berhasil unggul telak 3-0 hanya dalam 20 menit pertama.

Namun, Austria menolak menyerah. Di tengah cuaca panas ekstrem yang mencapai 40 derajat Celsius, Austria mengamuk dan membalikkan keadaan hingga menang dengan skor akhir 7-5.

Laga ikonik yang kemudian dijuluki "The Heat Battle of Lausanne" (Pertempuran Panas Lausanne) ini tidak hanya dicatat sebagai comeback terbesar, tetapi juga bertahan sebagai pertandingan dengan jumlah gol terbanyak (12 gol) dalam satu laga sepanjang sejarah Piala Dunia.

Selang 12 tahun kemudian, tepatnya pada perempat final Piala Dunia 1966 di Inggris, giliran Portugal yang dipaksa menguras emosi.

Menghadapi tim kejutan Korea Utara, Portugal secara mengejutkan tertinggal 0-3 saat laga baru berjalan 25 menit.

Di ambang kehancuran, sang maestro Eusebio mengambil alih panggung. Lewat gelontoran empat golnya, pemain berjuluk The Black Panther tersebut menginspirasi Portugal untuk menyudahi perlawanan Korea Utara dengan kemenangan dramatis 5-3.

Jika ketertinggalan tiga gol melahirkan rekor abadi, drama kebangkitan dari defisit dua gol juga tidak kalah legendaris. Jerman Barat menjadi aktor utama dalam dua laga klasik yang menguras air mata lawan.

Pada final Piala Dunia 1954, Jerman Barat menumbangkan generasi emas Hungaria yang dipimpin Ferenc Puskas dengan skor 3-2 setelah sempat tertinggal 0-2 di awal laga—sebuah momen yang kini dikenang sebagai "The Miracle of Bern".

Enam belas tahun kemudian, pada perempat final Meksiko 1970, Jerman Barat kembali bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk mendepak juara bertahan Inggris dengan skor 3-2 melalui babak perpanjangan waktu.

Di era modern, memori publik tentu belum lupa pada babak 16 besar Piala Dunia 2018 di Rusia. Belgia secara dramatis berhasil menyamakan kedudukan setelah tertinggal 0-2 dari Jepang, sebelum akhirnya Nacer Chadli mencetak gol kemenangan di detik-detik terakhir injury time (90+4') untuk menutup laga menjadi 3-2.

Menariknya, statistik FIFA menunjukkan bahwa mentalitas comeback ini sempat menjadi tren di partai puncak. Enam dari tujuh final pertama Piala Dunia selalu berakhir dengan kemenangan tim yang sempat tertinggal terlebih dahulu.

Rentetan tren ini dimulai sejak edisi perdana pada 1930 saat Uruguay menumbangkan Argentina. Pola serupa berlanjut saat Italia menundukkan Cekoslowakia pada 1934, disusul kejutan Jerman Barat atas Hungaria pada 1954.

Brasil juga mencatatkan dua kali comeback di final, masing-masing saat membungkam tuan rumah Swedia pada 1958 dan Cekoslowakia pada 1962.

Tren penutup dari era klasik ini terjadi pada tahun 1966, ketika Inggris bangkit untuk mengalahkan Jerman Barat melalui babak perpanjangan waktu yang penuh kontroversi.

Catatan-catatan emas ini menjadi bukti sahih bagi dunia olahraga: di panggung sebesar Piala Dunia, keunggulan besar sekalipun belum bisa menjamin kemenangan sebelum laga benar-benar usai.

Sumber: FIFA