FIFA Larang Taktik 'Blocking Set Piece' di Piala Dunia 2026

Ilustrasi - (foto by Pixabay)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - FIFA mengubah sejumlah regulasi pertandingan menjelang Piala Dunia 2026.

Salah satu perubahan paling signifikan adalah pemberian wewenang penuh kepada wasit untuk membatalkan gol yang diawali oleh pelanggaran sebelum bola dimainkan dalam situasi bola mati (set piece), sebuah fenomena yang belakangan kerap memicu kontroversi di Liga Inggris.

Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa langkah ini diambil demi menjaga keadilan di lapangan. Menurut dia, gol yang lahir dari skema pelanggaran seperti itu sama sekali tidak bisa dibenarkan.

"Kami yakin gol seperti itu tidak bisa dibenarkan, ini benar-benar tidak adil," kata Collina dalam laporan The Telegraph, Senin (1/6) lalu.

Langkah progresif ini pun telah mendapat lampu hijau dari Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) untuk memperluas fungsi Video Assistant Referee (VAR) dalam meninjau pelanggaran sebelum bola bergulir.

Sorotan tajam Collina salah satunya tertuju pada taktik Timnas Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel.

Ia mencontohkan insiden dalam laga persahabatan antara Inggris dan Uruguay, di mana gelandang Adam Wharton secara berlebihan menghalangi bek Uruguay, Jose Maria Gimenez, saat situasi sepak pojok.

Aksi tersebut dinilai memberi keuntungan tidak adil bagi Inggris, sehingga gol yang dicetak oleh Ben White seharusnya dianulir.

Fenomena serupa juga menjamur di Premier League, termasuk insiden dianulirnya gol penyeimbang West Ham United ke gawang Arsenal akibat pelanggaran terhadap kiper David Raya.

Maraknya duel fisik, aksi tarik-menarik, hingga taktik blocking dalam situasi tendangan sudut dan tendangan bebas inilah yang mendorong IFAB mempercepat pengesahan aturan baru tersebut.

Melalui regulasi anyar ini, perangkat VAR berhak merekomendasikan peninjauan ulang di lapangan (on-field review) jika mendeteksi adanya pelanggaran jelas oleh tim penyerang sebelum bola mati dimainkan, asalkan berdampak langsung pada terciptanya gol, penalti, atau keputusan disiplin.

Jika terbukti terjadi pelanggaran, wasit akan membatalkan gol tersebut dan memerintahkan situasi bola mati untuk diulang.

Tak hanya urusan bola mati, FIFA juga membidik taktik kotor lainnya, yaitu manipulasi cedera pemain yang kerap digunakan untuk merusak momentum lawan sekaligus memberi ruang bagi pelatih untuk memberikan instruksi di pinggir lapangan.

Collina menyatakan bahwa isu ini telah dibahas secara khusus dalam lokakarya bersama para pelatih dari 48 negara peserta Piala Dunia 2026.

Meskipun regulasi terkait cedera ini tidak langsung dijatuhi sanksi kartu, FIFA menginstruksikan para pengadil lapangan untuk bertindak lebih proaktif dan tegas guna mencegah tim mana pun mengambil keuntungan secara ilegal.