Panggung 'Kejam' Bernama Piala Dunia
Eks pelatih kepala Timnas Tunisia, Sabri Lamouchi - (foto by FIFA)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi para pemain, kekalahan di ajang Piala Dunia kerap kali mengubur impian masa kecil mereka di atas rumput hijau. Namun bagi seorang pelatih, kegagalan di panggung tertinggi ini berarti sesuatu yang lebih pragmatis sekaligus kejam, yakni kehilangan mata pencaharian.
Piala Dunia bukan sekadar turnamen sepak bola. Ia adalah mesin penggiling reputasi. Bahkan ketika kompetisi masih menyisakan riuh rendah sorak penonton di stadion, di balik layar, badai pemecatan dan pengunduran diri sudah mulai memakan korban.
Sejumlah arsitek lapangan hijau dipaksa angkat kaki lebih awal karena dinilai gagal memenuhi ekspektasi publik yang telanjur melambung tinggi.
Daftar pelatih yang harus mengepak koper mereka terus bertambah. Nama-nama besar seperti Ronald Koeman (Belanda), Sebastian Beccacece (Ekuador), Marcelo Bielsa (Uruguay), hingga Hong Myung-bo (Korea Selatan) menjadi gelombang terbaru yang mundur dari jabatan mereka.
Mereka menyusul jejak Steve Clarke (Skotlandia), Miroslav Koubek (Republik Ceko), dan Sabri Lamouchi (Tunisia) yang sudah lebih dulu merasakan pahitnya perpisahan.
Koeman mundur dengan kepala tertunduk setelah De Oranje disingkirkan oleh Maroko lewat drama adu penalti. Kekalahan ini mencatatkan tinta hitam sebagai eliminasi tercepat yang pernah dialami Belanda dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
Sebuah ironi besar. Hanya sebulan sebelum turnamen dimulai, Steve Clarke baru saja menandatangani kontrak baru berdurasi empat tahun.
Selama tujuh tahun masa baktinya, Clarke adalah pahlawan yang membawa Skotlandia menembus Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1998.
Namun di sepak bola, masa lalu yang indah dengan cepat menguap ketika hasil di lapangan tak lagi memihak.
Memilih berjiwa kesatria. Setelah Republik Ceko terpuruk sebagai juru kunci di fase grup, Koubek langsung menyatakan mundur sambil menegaskan bahwa dirinyalah yang paling bertanggung jawab atas hasil buruk tersebut.
Jika beberapa pelatih memilih mundur demi harga diri, yang lain tidak diberikan kemewahan untuk memilih. Sabri Lamouchi menjadi pelatih pertama yang merasakan kejamnya pemecatan di tengah turnamen berjalan.
Tunisia langsung mendepak juru taktik asal Prancis tersebut sesaat setelah mereka digulung 1-5 oleh Swedia di laga pembuka.
Kekalahan telak itu dianggap sebagai aib yang tak termaafkan oleh federasi sepak bola mereka, menjadikannya bagian dari sejarah kelam pelatih yang diusir bahkan sebelum koper mereka benar-benar dibongkar di hotel.
Kasus Lamouchi sebenarnya bukan hal baru. Sejarah Piala Dunia mencatat beberapa pemecatan kilat yang tak kalah dramatis.
Di Piala Dunia 1998, Henryk Kasperczak (Tunisia) dan Cha Bum-kun (Korea Selatan) didepak di tengah-tengah fase grup setelah hasil minor di laga-laga awal.
Kemudian pada Piala Dunia 2018, Julen Lopetegui (Spanyol) dipecat hanya dua hari sebelum turnamen dimulai, setelah ketahuan menjalin kesepakatan rahasia untuk melatih Real Madrid pasca-turnamen.l
Di balik kemilau trofi emas dan gengsi luar biasa memimpin sebuah negara di Piala Dunia, realitas yang dihadapi para pelatih sebenarnya sangatlah rapuh. Ruang untuk melakukan kesalahan di turnamen ini nyaris nol.
Piala Dunia adalah turnamen singkat yang berlangsung kurang dari enam pekan. Namun, durasi yang pendek ini memegang kuasa penuh untuk menghakimi, meruntuhkan, atau menyelamatkan proyek sepak bola sebuah negara yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Ketika peluit panjang berbunyi dan papan skor tidak memihak, taktik genius yang direncanakan berbulan-bulan langsung berubah menjadi bahan cacian.
Pada akhirnya, turnamen ini kembali menegaskan hukum alamnya, hanya ada tempat untuk pemenang, dan sisanya harus siap menghadapi surat pemecatan.
