Jejak Pelatih Legendaris di Piala Dunia
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Piala Dunia bukan sekadar
panggung terbesar bagi para pemain. Di balik gemerlap turnamen empat tahunan
itu, ada sosok-sosok pelatih yang menjadi arsitek perjalanan sebuah negara
menuju kejayaan.
Bagi sebagian besar pelatih, tampil di satu edisi Piala
Dunia saja sudah menjadi pencapaian tertinggi dalam karier.
Namun, hanya segelintir yang mampu kembali lagi dan lagi,
melintasi generasi pemain, perubahan taktik, hingga dinamika sepak bola dunia
yang terus berkembang.
Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan sejumlah nama yang
telah akrab dengan atmosfer turnamen terbesar di dunia tersebut.
Masuknya Carlos Queiroz bersama Ghana dan Didier Deschamps
bersama Prancis menambah daftar pelatih yang berulang kali tampil di putaran
final.
Mereka bergabung dengan kelompok elite yang telah menorehkan
sejarah sebagai pelatih dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia.
Di puncak daftar terdapat Carlos Alberto Parreira. Pelatih
asal Brasil itu masih memegang rekor dengan enam penampilan di putaran final
bersama lima negara berbeda, yakni Kuwait, Uni Emirat Arab, Brasil, Arab Saudi,
dan Afrika Selatan.
Kariernya di Piala Dunia dimulai pada 1982 ketika membawa
Kuwait tampil untuk pertama kalinya. Delapan tahun kemudian, ia kembali
mencatat sejarah dengan meloloskan Uni Emirat Arab ke putaran final perdana
mereka.
Namun, pencapaian terbesar Parreira datang di Amerika
Serikat pada 1994. Saat itu ia sukses mengakhiri penantian panjang Brasil untuk
meraih gelar juara dunia setelah Selecao mengalahkan Italia melalui adu penalti
di partai final.
Gelar tersebut menjadikannya salah satu pelatih paling
berpengaruh dalam sejarah sepak bola dunia.
Di bawah Parreira ada Bora Milutinovic, sosok legendaris
yang dikenal sebagai “spesialis Piala Dunia”. Pelatih asal Serbia itu
mencatatkan rekor unik dengan membawa lima negara berbeda tampil dalam lima edisi
Piala Dunia secara beruntun.
Meksiko, Kosta Rika, Amerika Serikat, Nigeria, hingga China
pernah merasakan sentuhan tangan dinginnya.
Milutinovic dikenang karena kemampuannya mengangkat tim-tim
yang tidak diunggulkan. Salah satu pencapaian paling mengesankan terjadi pada
Italia 1990 ketika ia membawa Kosta Rika melaju ke babak 16 besar dalam
penampilan perdana negara tersebut di Piala Dunia.
Nama berikutnya adalah Carlos Queiroz. Pelatih asal Portugal
itu resmi mencatatkan penampilan kelima di Piala Dunia setelah ditunjuk menangani
Ghana menjelang edisi 2026.
Sebelumnya, Queiroz pernah memimpin Portugal pada 2010 serta
Iran dalam tiga edisi beruntun pada 2014, 2018, dan 2022.
Meski belum pernah melangkah jauh di turnamen ini, Queiroz
berhasil mencatat sejarah dengan membawa Iran lolos ke tiga Piala Dunia
berturut-turut, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih negara tersebut
sebelumnya.
Konsistensinya dalam membangun tim membuat namanya tetap
diperhitungkan di level internasional.
Sementara itu, Jerman Barat pernah memiliki sosok Helmut
Schon, salah satu pelatih tersukses sepanjang sejarah Piala Dunia. Dalam empat
edisi antara 1966 hingga 1978, ia mencatatkan 16 kemenangan dari 25 pertandingan.
Puncaknya terjadi pada 1974 ketika membawa Jerman Barat
menjuarai Piala Dunia di hadapan publik sendiri dengan generasi emas yang
diperkuat Franz Beckenbauer, Gerd Muller, dan Sepp Maier.
Dari generasi modern, Didier Deschamps menjadi nama yang
paling menonjol. Pelatih Prancis itu kembali tampil di Piala Dunia 2026,
menandai keikutsertaannya yang keempat secara beruntun sejak 2014.
Deschamps memiliki catatan istimewa karena sukses menjuarai
Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih.
Sebagai kapten, ia mengangkat trofi pada 1998. Dua dekade
kemudian, ia kembali membawa Les Bleus menjadi juara dunia di Rusia 2018
sebelum mengantarkan Prancis menjadi runner-up pada edisi 2022 di Qatar.
Dengan 20 pertandingan yang sudah dijalani sebagai pelatih
di Piala Dunia, Deschamps berpeluang melampaui rekor pertandingan milik Helmut
Schon apabila Prancis melaju jauh pada edisi kali ini.
Uruguay memiliki Oscar Tabarez, sosok yang dianggap sebagai
arsitek kebangkitan La Celeste di era modern.
Di bawah kepemimpinannya, Uruguay kembali menjadi kekuatan
yang disegani dan mencapai semifinal Piala Dunia 2010 untuk pertama kalinya
dalam empat dekade.
Sejarah Piala Dunia juga tidak bisa dilepaskan dari nama
Sepp Herberger. Pelatih Jerman Barat itu dikenang berkat “Keajaiban Bern” pada
1954, ketika timnya secara mengejutkan mengalahkan Hungaria yang saat itu
dianggap sebagai tim terbaik dunia. Kemenangan tersebut menjadi salah satu
kejutan terbesar sepanjang sejarah turnamen.
Prancis juga pernah memiliki Henri Michel, pelatih yang
tampil di empat Piala Dunia bersama empat negara berbeda.
Selain membawa negaranya finis ketiga pada 1986, Michel
dikenal luas berkat kiprahnya di sepak bola Afrika bersama Kamerun, Maroko, dan
Pantai Gading.
Kemudian ada Lajos Baroti dari Hungaria yang empat kali
memimpin negaranya di putaran final. Meski tak pernah membawa Hungaria melewati
perempat final, ia tetap dikenang sebagai salah satu pelatih paling berpengaruh
dalam sejarah sepak bola negaranya.
Daftar ini ditutup oleh Walter Winterbottom, pelatih pertama
Inggris yang memimpin The Three Lions dalam empat edisi Piala Dunia
berturut-turut.
Meski gagal mempersembahkan gelar, kontribusinya dalam
membangun fondasi sepak bola modern Inggris menjadi warisan penting yang
kemudian membantu lahirnya generasi juara dunia 1966.
Kisah para pelatih tersebut menunjukkan bahwa kesuksesan di
Piala Dunia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meracik strategi dalam satu
turnamen.
Dibutuhkan konsistensi, adaptasi, serta kemampuan membangun
generasi demi generasi untuk bisa kembali tampil di panggung terbesar sepak
bola dunia.
Itulah yang membuat nama-nama seperti Parreira, Milutinovic,
Queiroz, hingga Deschamps layak dikenang sebagai bagian dari sejarah besar
Piala Dunia.
Sumber: FIFA
