Almiron Korban Pertama Aturan Tutup Mulut FIFA

Almiron Korban Pertama Aturan Tutup Mulut FIFA - (foto by vietnam.vn)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Piala Dunia 2026 mencatat sejarah baru setelah pemain Paraguay, Miguel Almiron, menjadi pesepak bola pertama yang menerima kartu merah berdasarkan regulasi terbaru FIFA dan IFAB terkait tindakan menutupi mulut saat berinteraksi dengan lawan di lapangan.

Insiden tersebut terjadi dalam laga Paraguay kontra Turki. Kericuhan bermula setelah pelanggaran yang dilakukan salah satu pemain Paraguay terhadap pemain Turki, Mert Muldur.

Saat situasi memanas, Almiron terlibat percakapan dengan Muldur sambil menutupi mulutnya menggunakan tangan.

Wasit Ivan Barton sempat membiarkan pertandingan berlanjut. Namun, setelah menerima masukan dari tim Video Assistant Referee (VAR), ia menghentikan permainan dan meninjau ulang rekaman melalui monitor di tepi lapangan.

Usai melakukan pengecekan VAR, Barton mengumumkan keputusannya melalui pengeras suara stadion.

Ia menyatakan bahwa Almiron terbukti sengaja menutupi mulutnya ketika berbicara kepada Muldur, sehingga dijatuhi kartu merah langsung.

Keputusan tersebut menjadi penerapan pertama aturan baru FIFA dan IFAB yang mulai diberlakukan pada awal 2026.

Regulasi itu memberikan kewenangan kepada wasit untuk mengusir pemain yang dengan sengaja menutupi mulut menggunakan tangan, lengan, atau bagian pakaian saat terlibat perdebatan, konfrontasi, maupun tindakan verbal terhadap lawan.

FIFA menjelaskan aturan tersebut diterapkan untuk mencegah penggunaan kata-kata yang bersifat menghina, diskriminatif, atau provokatif yang sulit terdeteksi kamera ketika pemain berupaya menyembunyikan gerakan bibir mereka.

Lahirnya regulasi ini tidak terlepas dari sejumlah kontroversi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di sepak bola Eropa.

Salah satu kasus yang mendapat sorotan melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, yang dituding melontarkan komentar bernada rasial kepada Vinicius Jr. dalam pertandingan Liga Champions.

Kasus itu berujung pada sanksi larangan bermain enam pertandingan bagi pemain asal Argentina tersebut.

Menurut FIFA, kebiasaan menutupi mulut saat berbicara di lapangan dapat menghambat proses investigasi terhadap dugaan penghinaan maupun tindakan diskriminatif.

Karena itu, tindakan yang sebelumnya dianggap lumrah kini dapat berujung pada hukuman paling berat dalam pertandingan.

Dengan kartu merah tersebut, Almiron menjadi pusat perhatian sekaligus menandai dimulainya era baru sepak bola, ketika perilaku verbal pemain di lapangan mendapat pengawasan yang sama ketatnya dengan pelanggaran fisik maupun handball.