Legenda PSM Ungkap Transisi Cepat Kunci Timnas Libas Saint Kitts
Luciano Leandro - (foto by @lucianogomesleandro/instagram)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Tim Nasional Indonesia mencatat kemenangan telak 4-0 atas Saint Kitts and Nevis dalam laga FIFA Series 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jumat (27/3/2026) malam.
Kemenangan ini sekaligus menandai debut impresif pelatih anyar asal Inggris, John Herdman.
Beckham Putra menjadi bintang lapangan dengan torehan brace pada menit ke-15 dan ke-25.
Keunggulan skuat Garuda semakin tak terkejar di babak kedua melalui gol Ole Romeny (53’) dan ditutup oleh aksi Mauro Zijlstra (75’).
Legenda PSM Makassar, Luciano Leandro, menyebut hasil ini sebagai cerminan dominasi absolut.
Menurut dia, anak asuh John Herdman berhasil memegang kendali tempo dan menunjukkan intensitas serangan yang tinggi sejak kick-off.
"Kunci utama ada pada transisi cepat. Begitu merebut bola, pemain langsung menggebrak dengan kecepatan tinggi yang gagal diantisipasi pertahanan lawan," ujar Luciano, dikutip dari Bola.com.
Luciano juga menyoroti tiga aspek krusial, yakni pergerakan tanpa bola yang dinamis, efektivitas Skuad Garuda memanfaatkan peluang.
Terakhir, taktik low block (bertahan total) Saint Kitts and Nevis yang gagal meredam agresivitas Indonesia akibat buruknya organisasi tim.
Data dari Lapangbola.com mempertegas superioritas Indonesia di lapangan.
Tim Merah-Putih mencatatkan penguasaan bola hingga 70 persen dan melepaskan 15 tembakan (6 tepat sasaran).
Sebaliknya, tim tamu hanya mampu menciptakan satu ancaman ke arah gawang.
Dalam hal distribusi bola, Timnas Indonesia mencatatkan 533 operan akurat dari total 583 percobaan.
Angka ini jauh mengungguli tim lawan yang hanya membukukan 233 operan sukses sepanjang laga.
Kemenangan atas Saint Nevis membawa Timnas Indonesia ke partai puncak FIFA Series 2026.
Jay Idzes dkk. akan menghadapi raksasa Eropa, Bulgaria di babak final yang akan dihelat di SUGBK, Jakarta, Senin (30/3) mendatang.
Luciano bukan sekadar pemain asing bagi PSM; ia adalah simbol kebangkitan klub di era 90-an. Datang dari Brasil, gelandang elegan ini membawa warna baru dalam permainan "Ayam Jantan dari Timur".
Luciano mendarat di Makassar pada tahun 1995 untuk memperkuat PSM di Liga Indonesia (Ligina) II. Ia datang bersama kompatriotnya, Jacksen F. Tiago dan Marcio Novo.
Sebagai playmaker, Luciano dikenal dengan visi bermain yang cerdas, akurasi umpan yang mematikan, dan ketenangan luar biasa dalam mengatur tempo.
Ia dijuluki sebagai jenderal lapangan tengah yang mampu memanjakan penyerang dengan umpan-umpan matang.
Meski sempat pindah ke Persija Jakarta, cinta Luciano terhadap Makassar tidak pernah luntur. Ia selalu dianggap sebagai salah satu pemain asing terbaik yang pernah mengenakan seragam PSM.
Hubungan emosionalnya dengan suporter sangat kuat, sehingga ia sering disebut sebagai "anak angkat" Makassar.
Setelah pensiun, Luciano sempat kembali ke PSM sebagai pelatih kepala pada tahun 2016 (Indonesia Soccer Championship).
Meski masanya sebagai pelatih tidak sepanjang saat ia menjadi pemain, kehadirannya selalu disambut dengan nostalgia dan rasa hormat yang tinggi oleh publik Makassar.
