Kisah di Balik Terciptanya Trofi Paling Ikonik Sejagat
Trofi Piala Dunia - (foto by FIFA)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di sudut Museum FIFA, Zurich, atmosfer mendadak terasa lebih hangat. Bukan karena sorot lampu pameran, melainkan karena kehadiran tiga tamu istimewa: Giorgio, Gabriella, dan Tomaso.
Bagi banyak orang, objek di depan mereka adalah lambang supremasi sepak bola dunia. Namun bagi ketiganya, objek emas itu adalah bagian dari jiwa sang ayah dan kakek, Silvio Gazzaniga.
"Ini seperti adik perempuan bagi saya!" cetus Giorgio dengan mata berbinar saat mendekati mahakarya ayahnya.
Nama Silvio Gazzaniga mungkin tidak sesohor Pele atau Maradona di atas rumput hijau. Namun, karyanya adalah objek paling dicari di planet ini.
Kisahnya bermula pasca-1970, saat trofi Jules Rimet resmi menetap di Brasil. FIFA pun mencari "wajah" baru untuk kejayaan sepak bola.
Gazzaniga tampil beda dalam kompetisi desain tersebut. Di saat peserta lain hanya mengirim sketsa di atas kertas, ia dengan percaya diri menyertakan foto prototipe fisik. Keberanian itu berbuah manis; ia menang, dan sejarah baru pun terpahat.
Trofi setinggi 36,8 sentimeter ini bukan sekadar emas 18 karat seberat 6,1 kilogram. Di mata Gazzaniga, itu adalah puisi tentang perjuangan.
“Gagasannya adalah menciptakan sesuatu yang melambangkan usaha, dinamisme, dan kegembiraan seorang atlet pada momen kemenangan,” kenang sang maestro dalam sebuah wawancara sebelum wafat pada 2016.
Ia dengan cerdik menyisipkan cincin malachite hijau di bagian dasar—sebuah penghormatan visual untuk hijaunya rumput lapangan yang menjadi saksi bisu tetesan keringat para juara.
Cucunya, Tomaso Bonazzi, melihat karya kakeknya sebagai titik balik estetika. Sebelum era Gazzaniga, trofi olahraga cenderung kaku dan formal.
Gazzaniga mendobraknya dengan lekukan dinamis dua figur manusia yang menyangga dunia—menciptakan gerakan yang seolah bernapas di dalam material padat.
“Ia paling bahagia saat bekerja. Itu adalah pekerjaan yang benar-benar mengisi hatinya,” kenang sang putri, Gabriella, dengan nada lembut.
Berbeda dengan Trofi Jules Rimet, "adik perempuan" Giorgio ini tidak akan pernah dimiliki secara permanen oleh negara mana pun.
Sang trofi asli selalu kembali ke pelukan Museum FIFA di Zurich setelah pesta kemenangan usai, hanya menyisakan replika untuk dibawa pulang sang juara.
Kunjungan keluarga Gazzaniga ke museum ini bukan sekadar wisata. Ini adalah ziarah emosional untuk kembali terhubung dengan warisan keluarga yang kini menjadi milik dunia.
Melalui garis lengkung yang diciptakan Silvio, dunia akan selalu diingatkan bahwa di balik ambisi mengangkat trofi, ada kasih sayang seorang pematung yang mencintai pekerjaannya dengan sepenuh hati.
Profil Trofi Piala Dunia FIFA
Diciptakan sebagai simbol supremasi sepak bola modern, mahakarya ini bukan sekadar piala, melainkan karya seni rupa yang diakui secara global.
Perancang: Silvio Gazzaniga (Pematung asal Italia).
Tahun Pembuatan: 1971 (Pertama kali diperkenalkan pada Piala Dunia 1974).
Material Utama: Emas murni 18 karat (75% emas).
Material Dasar: Dua lapisan batu permata semi-mulia, Malachite hijau.
Dimensi: Tinggi 36,8 cm.
Berat: 6,175 kilogram.
Desain: Menggambarkan dua sosok manusia yang mengangkat bola dunia dalam momen kemenangan yang dinamis.
Status Kepemilikan: Berbeda dengan trofi Jules Rimet, trofi asli ini tidak boleh dimiliki secara permanen oleh negara pemenang. Tim juara hanya menerima replika berbahan perunggu berlapis emas (FIFA World Cup Winners' Trophy), sementara yang asli tetap tersimpan di Museum FIFA, Zurich.
Prasasti Juara: Nama-nama negara pemenang diukir pada bagian dasar trofi sejak tahun 1974, dengan ruang yang diprediksi cukup hingga edisi Piala Dunia 2038.
