Bola Dunia 2026: Mobareze Iran...!
Suporter Timnas Iran - (foto by ANTARA/Xinhua)
TIDAK ada peserta Piala Dunia FIFA 2026 yang sekontroversi Timnas Iran. Sejak meletusnya perang, yang dipicu serangan bersama Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026, kontroversi itu dumulai pula.
Iran tetap ikut atau tidak ikut Piala Dunia yang digelar di tiga negara tuan rumah, yaitu AS plus Meksiko dan Kanada, menjadi perdebatan. Di tingkat elite negara, organisasi sepakbola dunia, sampai ke warung-warung kopi keikutsertaannya menjadi diskusi yang tak kunjung selesai.
Berbagai argumen mewarnai percakapan itu. Iran sendiri menyatakan siap ikut Piala Dunia. Sementara lainnya meragukan, mengingat perang berkecamuk.
Nasib Iran sebagai suatu negara dan bangsa saja masih belum jelas, apalagi ikut Piala Dunia. Perang masih berkecamuk.
Tetapi Iran, seperti kita saksikan dalam tayangan siaran televisi, atau membaca berita-berita resmi, adalah negara dan bangsa yang tegar. Dikeroyok mesiu, rudal-rudal mematikan, kolaborasi AS-Israel, yang bahkan menewaskan pemimpin tertingginya, Iran tak pernah surut.
Mobareze.... Mereka melawan, menghadapi perang itu. Kalau perang yang mengancam jiwa saja mereka hadapi, apalagi kalau hanya sepakbola. Berangkat pergi Amerika, negeri musuh yang memeranginya, tak ubahnya pergi ke medan perang juga.
Mobareze dalam Bahasa Persia atau Fersi, berarti berjuang, bertarung, atau melakukan perlawanan. Biasanya digunakan dalam konteks politik, keadilan, dan olahraga.
Mobareze Iran lengkap. Dalam konteks politik, Iran menghadapi serangan politik luar negeri. Dalam konteks keadilan, jelas mereka dianiaya oleh AS dan Israel.
Dalam konteks olahraga, khususnya sepak bola di ajang Piala Dunia 2026, Iran pun melawan. Mobaraze, melawan musuh, melawan aturan, bahkan melawan rasa takut sekalipun.
Maka mereka pun berangkat ke Amerika tak ubahnya pergi perang sungguhan. Setiap pemain satu per satu mencium kitab suci Alquran sebelum naik bus menuju bandara.
Upacara pelepasan tim dilakukan sangat sederhana. Tidak ada kemewahan atau konvoi sebagaimana banyak timnas negara lain diperlakukan.
Perlakuan tidak adil, kedzaliman, tak hentinya dialamatkan kepada tim Iran. Hanya empat pemain yang diberi visa. Itu pun setelah mereka keberatan dan banding. Sebelas lainnya ditolak.
Mereka tidak bisa menginap di tanah Amerika. Mereka harus bermarkas di Meksiko. Mau tanding baru berangkat. Habis tanding langsung pulang.
Kartel dan tentara Meksiko menyuntikkan semangat ke pemain Iran. Kartel dan tentara menjamin keselamatan pemain Iran.
Perlakuan dzalim itu tak membuat nyali Iran surut atau melemah. Lihatlah pertandingan perdana fase grup. Iran melawan Selandia Baru. Kebobolan, membalas. Kebobolan lagi, balas lagi. Skor dua sama.
Momen menyentuh ketika pemain Iran menggandeng tangan-tangan mungil anak-anak Amerika memasuki lapangan. Bisa saja pemain Iran menolak didampingi anak-anak Iran sebagai protes terhadap berbagai tekanan dan perlakuan tidak adil yang dialaminya.
Tetapi tidak. Iran tidak melakukannya. Iran sportif. Sama dengan perang sungguhan di tanah airnya. Iran tidak menyerang duluan. Iran membalas serangan, lalu perang berkepanjangan.
Mobareze... Iran melakukan perlawanan. Para pemain Iran, memeluk tas sekolah anak-anak saat seremoni kick off pertandingan. Mengingatkan miliaran pasang mata penonton di seluruh penjuru dunia bahwa ratusan anak-anak terbunuh dalam serangan rudal-rudal AS dan Israel. Juga pemimpin tertinggi mereka Ali Khamanei dan keluarganya.
Pelatih Timnas Iran mengecam perlakuan buruk FIFA dan AS terhadap timnya usai laga kontra Selandia Baru di Piala Dunia 2026. Pemulangan paksa ke Tijuana, Meksiko akibat masalah visa dengan tuan rumah AS mempertegas ketidakadilan tersebut
"Tim kami adalah yang paling tertindas," tegas Amir Ghalenoei.
Kapten Mehdi Taremi turut menyuarakan kekecewaannya atas larangan tersebut. Namun, ia yakin mental baja skuad Iran tetap menjadi modal krusial.
"Kalian sedang menulis sejarah, seluruh dunia menyaksikan kalian. Teruslah bermain dengan sepenuh hati, untuk rakyat kalian, untuk keluarga kalian, untuk para penggemar kalian, dan untuk semua orang di dunia yang jatuh cinta dengan Timnas Iran," ujar Presiden FIFA Gianni Infantino di ruang ganti tim Iran usai laga seri dengan Selandia Baru.
Mobareze Iran...!
(AS, dari berbagai sumber bacaan)
