I.League Soroti Tingginya Angka Pelanggaran Disiplin Pemain Muda di EPA
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Direktur Kompetisi I.League,
Asep Saputra, menegaskan bahwa pembinaan karakter dan profesionalisme pemain
muda masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi sepak bola Indonesia.
Evaluasi menohok ini disampaikan Asep tepat setelah laga final
EPA Super League U20 yang dimenangkan Persija Jakarta U20 melawan Malut United
U20 di Bekasi, Minggu (17/5), menyusul rentetan insiden pelanggaran disiplin
berat yang sempat mencoreng jalannya kompetisi musim ini.
Sebelum kemenangan untuk Persija U20, Persik Kediri
menjuarai EPA Super League U16 dan Malut United menjadi kampiun di EPA Super
League U18. Sebelumnya, Sabtu, digelar juga final EPA Championship U19 yang dimenangkan
oleh Sumsel United.
"Saya pikir ini masih menjadi PR besar kita, tentu tidak
hanya klub, tapi I.League juga, para ofisial juga, perangkat pertandingan,
penonton dan lain-lain untuk bisa kembali kepada tujuannya, di usia muda harus
juga dipupuk, dibina, bagaimana bersikap profesional, menghindari yang namanya
melanggar sportivitas dan fair play dan mudah-mudahan akan lebih baik di
musim-musim yang akan datang," kata Asep, Minggu (17/5).
Salah satu kasus yang viral soal pelanggaran disiplin di EPA
terjadi pada kelompok usia U20 dalam pertandingan antara Bhayangkara Presisi
Lampung melawan Dewa United Banten di Stadion Citarum, Semarang, pada 19 April.
Pertandingan ini diwarnai kericuhan pada akhir laga, salah
satunya melibatkan pemain Bhayangkara yang juga penggawa timnas U17 Fadly
Alberto Hengga yang melakukan tendangan bergaya kungfu kepada pemain Dewa
United Rakha Nurkholis.
Insiden ini sempat memicu amarah kedua pihak, sebelum
kemudian kedua pemain terkait sepakat berjabat tangan untuk mengakhiri kasus
ini secara damai.
Kendati demikian, insiden ini tetap membuat pemain yang
terlibat mendapatkan sanksi dari Komite Disiplin PSSI, termasuk Alberto Hengga
yang menerima hukuman larangan bermain selama tiga tahun.
Saat ditanya bagaimana upaya I.League agar hal-hal seperti
ini tidak terjadi, Asep mengungkapkan pihaknya telah melakukan banyak upaya,
salah satunya memberikan sanksi yang tegas.
"Ketika bertemu dalam satu forum bicara
campaign-campaign-nya juga kita harus perkuat, perketat, hukumannya juga tentu
yang sesuai dengan kode disiplin yang ada. Kita harapkan itu memberikan efek
jerak juga, meskipun kita tetap mempertimbangkan sisi development dalam rentang
usia ini," ucap dia.
Dalam kesempatan yang sama, Asep juga mengatakan bahwa musim
depan tak ada perubahan dalam kompetisi EPA Super League yang menggelar
kompetisi U16, U18, dan U20. Di sisi lain, bakal ada penambahan kelompok umur
di EPA Championship yang musim ini hanya memainkan kelompok usia U19.
Ia juga membocorkan pada musim depan kemungkinan kompetisi
EPA akan memainkan format yang berbeda dari musim ini, namun tetap tak
mengurangi nilai kompetitis kompetisi itu sendiri.
"Misalnya mix dalam hal format, ada 'round-robin', bisa dikombinasikan dengan 'swiss' misalnya, atau juga tadi 'home and away' dikombinasikan dengan 'centralized' dengan series kalau untuk yang daerah yang misalkan di luar Jawa. Sekali lagi, 70 persen sedang kita godok, mudah-mudahan dalam waktu dekat juga kita akan bagi informasinya kepada semua klub," tutup dia.
Sumber: ANTARA
