Seni Menolak Tua ala Lionel Messi
Lionel Messi - (foto by @afaseleccion/instagram)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Usia bagi banyak pesepak bola adalah batas yang tak bisa ditawar. Kecepatan berkurang, tenaga menurun, dan panggung terbesar perlahan ditinggalkan.
Namun bagi Lionel Messi, waktu seolah hanya angka. Di usia yang tak lagi muda untuk ukuran atlet profesional, kapten Argentina itu kembali menunjukkan bahwa kelas dan kecerdasan bisa mengalahkan usia.
Piala Dunia 2026 menjadi panggung terbaru bagi Messi untuk memperlihatkan seni menolak tua. Pada laga perdana Argentina menghadapi Aljazair, sang megabintang mencetak hattrick sekaligus mengantar timnya meraih kemenangan meyakinkan.
Namun lebih dari sekadar tiga gol, pertandingan itu menghadirkan serangkaian catatan sejarah yang semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang masa.
Tiga gol ke gawang Aljazair membuat Messi resmi menjadi pencetak hattrick tertua dalam sejarah Piala Dunia.
Rekor tersebut sebelumnya dipegang rival abadinya, Cristiano Ronaldo, yang mencatatkan hattrick ke gawang Spanyol pada Piala Dunia 2018 saat berusia 33 tahun 130 hari.
Kini, rekor itu berpindah tangan kepada Messi yang membuktikan bahwa ketajaman belum pudar meski usia terus bertambah.
Tak berhenti di situ, Messi juga mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang tampil dalam enam edisi Piala Dunia berbeda.
Sejak debutnya pada 2006, ia terus hadir di panggung tertinggi sepak bola dunia pada 2010, 2014, 2018, 2022, hingga 2026.
Tambahan tiga gol yang dicetaknya di laga perdana juga menjadikannya satu-satunya pemain yang mampu mencetak gol di enam edisi Piala Dunia.
Momen tersebut terasa semakin spesial karena bertepatan dengan penampilan ke-200 Messi bersama Tim Nasional Argentina.
Sebuah angka yang menggambarkan perjalanan panjang penuh konsistensi. Menorehkan hattrick pada laga ke-200, terlebih di ajang sebesar Piala Dunia, menjadi pencapaian yang sangat langka bahkan bagi pemain-pemain terbaik dunia.
Ketajaman Messi pada malam itu juga membawa dampak besar dalam buku sejarah turnamen. Sebelum Piala Dunia 2026 dimulai, ia telah mengoleksi 13 gol.
Hattrick ke gawang Aljazair membuat koleksinya bertambah menjadi 16 gol dan menyamai rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia.
Apa yang dilakukan Messi menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang bagi mereka yang mampu beradaptasi.
Jika dahulu ia mengandalkan ledakan kecepatan dan dribel yang sulit dihentikan, kini ia menguasai permainan dengan visi, kecerdasan membaca ruang, serta sentuhan yang tetap mematikan.
Pemain berjuluk La Pulga itu mungkin tidak lagi berlari secepat saat muda, tetapi pikirannya selalu selangkah lebih cepat dari lawan.
Di tengah generasi baru yang terus bermunculan, Lionel Messi kembali menunjukkan bahwa legenda sejati tidak pernah benar-benar menua. Ia hanya menemukan cara baru untuk tetap menjadi yang terbaik.
Dan di Piala Dunia 2026, dunia kembali menyaksikan bagaimana seni menolak tua dimainkan dengan begitu indah oleh seorang Lionel Messi.
