Home > PSM

Navarone Foor: Idolanya dari 'Planet Lain', Lagunya Bikin Rindu

Navarone Foor - (foto by PSM)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Menjadi gelandang berusia 34 tahun yang sudah makan asam garam Eropa, lalu pindah ke Makassar, tentu butuh adaptasi. Navarone Chesney Kai Foor melakukannya dengan cara yang paling PSM yakni berdoa dulu, bernyanyi kemudian.

Dalam sesi tanya jawab singkat di kanal resmi klub, Jumat (2/10), gelandang Belanda berdarah Toraja-Maluku itu menyebut Lionel Messi sebagai pemain paling menginspirasinya.

Alasannya sederhana dan tanpa data statistik, Messi berasal dari planet yang lain. Klaim ini memang belum diverifikasi lembaga antariksa mana pun, tetapi sulit dibantah siapa pun yang pernah melihat Messi menggiring bola.

Gaya bermainnya ia rangkum dalam satu kata, teknis, plus kemampuan memberi assist dan mencetak gol. Untuk bagian assist, angkanya sudah bicara.

Foor membukukan dua assist dari tiga laga dan untuk sementara bertengger di lima besar pencatat assist terbanyak Super League 2026/27.

Untuk bagian gol, ia masih punya utang, tetapi dengan rasio assist seperti itu, rekan-rekannya tampaknya yang berutang padanya.

Musim lalu bersama VVV-Venlo di kasta kedua Belanda, ia mencatat 36 penampilan dengan dua gol dan tujuh assist, jadi naluri sebagai penyuplai bola memang sudah lama terbentuk.

Fleksibilitasnya pun jadi nilai tambah, karena ia bisa bermain sebagai gelandang serang, gelandang bertahan, hingga winger kiri. Singkatnya, ia pemain yang tidak banyak menuntut posisi.

Ritual sebelum bertanding? "Doa kepada Tuhan," ujarnya. Tidak ada kaus kaki keramat, tidak ada urutan melangkah ke lapangan yang harus persis. Tim medis dan petugas laundry PSM pasti lega.

Target pribadinya musim ini juga rendah hati yaitu bermain sebanyak mungkin. Dengan dua assist dalam tiga laga, permintaan itu terdengar lebih seperti saran yang sulit ditolak bangku pelatih ketimbang sekadar harapan.

Kisah Foor di PSM sendiri sudah punya nuansa pulang kampung sejak awal. Ia lahir di Opheusden, kota kecil di Provinsi Gelderland, Belanda, pada 4 Februari 1992.

Kariernya berawal dari akademi lokal, lalu berlanjut ke akademi NEC Nijmegen, tempat karier profesionalnya dimulai.

Di NEC ia tampil 154 kali di liga dengan 15 gol sebelum merantau ke Vitesse, lalu ke sejumlah klub lain di Eropa dan Asia. Ia juga pernah memperkuat tim nasional junior Belanda di level U-19 hingga U-21.

Darah Indonesia mengalir dari kakek dan neneknya, berasal dari Toraja dan Maluku. PSM mengumumkan kedatangannya pada 13 Agustus 2026. Ia menjadi pemain asing kedelapan klub di musim 2026/27.

Dalam video perkenalan, ia terlihat belajar bahasa Indonesia lewat Google sebelum menyapa suporter dengan kalimat "Saya Navarone Foor, saya siap untuk PSM". Metode belajarnya mungkin tidak ortodoks, tetapi hasilnya jelas dan diterima dengan hangat.

Di atas lapangan, ia datang untuk mengisi ruang yang ditinggalkan Savio Roberto. Ia diproyeksikan menjadi jenderal lapangan tengah dan pengatur irama permainan Pasukan Ramang.

Tugas ini terasa berat, apalagi PSM belum meraih kemenangan dalam tiga laga awal Super League 2026/27, dengan dua hasil imbang dan sekali kalah.

Kabar baiknya, assist-assist Foor menunjukkan bahwa suplai bola dari lini tengah tidak bermasalah. Kesempatan berikutnya datang di Stadion Maguwoharjo, ketika PSM bertamu ke PSS Sleman pada Minggu (11/10).

Bagian paling manis dari wawancara ini muncul di pertanyaan soal lagu. Foor memilih "Manise Manise" dan langsung menyanyikan sepenggal liriknya.

Lagu itu bercerita tentang kerinduan seorang perantau yang lama jauh dari kampung halaman di Ambon.

Memilih lagu itu bagi pemain yang akar Malukunya jauh dari tempat ia dibesarkan terasa seperti pilihan yang jujur.

Ia lahir dan besar di Belanda, tetapi sudut hatinya jelas punya tempat untuk Maluku. Lagunya semanis judulnya, dan siapa pun yang sedang menghitung asupan gula hari ini sebaiknya mendengarkannya dengan hati-hati.

Pesan penutupnya pendek dan pada, berjuang bersama, sukses bersama. Lalu Ewako, kata yang di Makassar tidak perlu diterjemahkan.