Home > PSM

Laga Kandang Terakhir yang Menyisakan Maaf dari Ahmad Amiruddin

Ahmad Amiruddin - (foto by Akbar)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Malam perpisahan PSM Makassar di Stadion BJ Habibie, Parepare, musim ini berakhir anti-klimaks. Alih-alih merayakan kemenangan di laga kandang terakhir mereka pada pekan ke-33 Super League 2025/26, Minggu (17/5) malam, Pasukan Ramang justru harus merelakan tiga poin direbut oleh Persib Bandung.

Bagi sang caretaker pelatih kepala PSM Makassar, Ahmad Amiruddin, kekalahan di kandang di hadapan ribuan pendukung setia adalah pil pahit yang teramat sukar ditelan. Langkah kakinya menuju ruang konferensi pers terasa berat, memikul beban kekecewaan dari seluruh tribun stadion.

Kalimat pertama yang meluncur dari bibirnya bukanlah evaluasi taktik atau pembelaan diri, melainkan sebuah untaian maaf yang tulus untuk para suporter yang telah memerahkan stadion.

“Pertama-tama saya ingin memohon maaf kepada semua suporter yang telah memenuhi stadion, tapi pada akhirnya kita kalah di kandang,” ungkap Ahmad Amiruddin dengan nada suara yang bergetar namun tetap tegar.

Namun, di balik duka kekalahan tersebut, Amiruddin menolak untuk menyalahkan anak asuhnya. Ia tahu persis bagaimana keringat dicurahkan di atas rumput lapangan malam itu. Di mata sang pelatih, daya juang Yuran Fernandes dan kawan-kawan tidak luntur sedikit pun, bahkan hingga detik-detik terakhir laga yang mendebarkan.

Baginya, hasil akhir di papan skor tidak boleh mengubur apresiasi atas determinasi tinggi yang ditunjukkan oleh tim Juku Eja.

“Tapi menurut saya, kita harus respek kepada para pemain. Kerja keras mereka, kemauan mereka, kegigihan mereka harus kita apresiasi. Mereka berjuang sampai di menit akhir walaupun pada akhirnya satu kesalahan kecil membuat perubahan di papan skor,” lanjutnya, merefleksikan betapa kejamnya detail kecil dalam sepak bola modern.

Sebuah kelengahan memang berujung fatal, memutus asa untuk mengamankan poin penuh di markas sendiri. Kendati demikian, alih-alih meratapi kekeliruan tersebut, Amiruddin memilih untuk menutup malam yang emosional itu dengan kepala tegak dan rasa bangga yang besar terhadap loyalitas para pemainnya di atas lapangan.

“Sekali lagi saya sangat berterima kasih kepada para pemain untuk kerja kerasnya malam ini,” pungkasnya menutup malam penuh drama di Parepare.

Kini, riuh stadion telah usai, meninggalkan evaluasi besar menjelang laga penutup musim. Bagi PSM, perjuangan belum benar-benar selesai, dan respons mereka setelah malam pahit ini akan menjadi penentu karakter asli sang Pasukan Ramang.