Antara Gaji dan Gengsi: Menagih Hati Pemain PSM
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Riuh rendah Stadion BJ Habibie,
Parepare, perlahan memudar usai peluit panjang berbunyi, Sabtu (4/4) lalu. Skor
1-1 saat menjamu Persis Solo menyisakan ruang ganti yang sunyi, namun penuh
dengan gejolak tanya.
Di sana, di balik pintu tertutup, sebuah peringatan keras
sedang diketuk: ini bukan lagi soal taktik, tapi soal hati.
PSM Makassar kini berada di persimpangan jalan yang sunyi.
Menempati posisi ke-13 dengan koleksi 25 poin, bayang-bayang zona merah kian
nyata.
Hanya lima langkah kecil—atau lima poin saja—jarak yang
memisahkan mereka dengan Madura United di jurang degradasi. Dengan delapan laga
tersisa, napas Juku Eja di kasta tertinggi kini sedang dipertaruhkan.
Namun, bagi asisten pelatih Ahmad Amiruddin, musuh terbesar
PSM saat ini bukanlah lawan di lapangan, melainkan "hantu" di dalam
pikiran para pemainnya sendiri.
Amiruddin enggan bersembunyi di balik alasan kelelahan
fisik. Baginya, penurunan performa tersebut adalah sinyal rapuhnya kesiapan
mental.
Ia melontarkan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah
nurani setiap penggawa: "Apakah kita memang mau memberikan lebih ke PSM,
atau kita sekadar menjalankan kewajiban?"
Kalimat itu bukan sekadar kritik, melainkan sebuah cermin.
Di mata tim pelatih, talenta sehebat apa pun akan menjadi bumerang jika tidak
dibarengi dengan komitmen.
Pergantian pemain yang diharapkan menjadi suntikan tenaga
baru justru kerap menjadi celah yang merugikan tim.
Kini, jelang keberangkatan ke Bantul untuk menghadapi PSIM
Yogyakarta pada Jumat mendatang, PSM tidak hanya sedang memoles fisik di
lapangan latihan.
Ada sesi "bicara hati ke hati" yang harus
diselesaikan. Para pemain ditantang untuk membuktikan kembali identitas mereka
sebagai petarung.
Sebab, di sisa musim Super League 2025/26 yang kian kejam,
hanya ada dua pilihan bagi mereka yang mengenakan seragam kebesaran merah
marun: bangkit memberikan segalanya demi kebanggaan masyarakat Sulawesi
Selatan, atau terpuruk dalam rutinitas yang berakhir dengan penyesalan.
Bagi suporter setia, mereka tidak hanya menunggu kemenangan.
Mereka menunggu kembalinya nyali Siri' na Pacce yang pernah membuat lawan
gemetar saat bertandang ke markas para petarung ini.
Kini, bola ada di kaki para pemain: sekadar bekerja, atau
bermain dengan jiwa?
