Home > PSM

Antara Gaji dan Gengsi: Menagih Hati Pemain PSM

Pemain PSM - (foto by @psm_makassar/instagram)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Riuh rendah Stadion BJ Habibie, Parepare, perlahan memudar usai peluit panjang berbunyi, Sabtu (4/4) lalu. Skor 1-1 saat menjamu Persis Solo menyisakan ruang ganti yang sunyi, namun penuh dengan gejolak tanya.

Di sana, di balik pintu tertutup, sebuah peringatan keras sedang diketuk: ini bukan lagi soal taktik, tapi soal hati.

PSM Makassar kini berada di persimpangan jalan yang sunyi. Menempati posisi ke-13 dengan koleksi 25 poin, bayang-bayang zona merah kian nyata.

Hanya lima langkah kecil—atau lima poin saja—jarak yang memisahkan mereka dengan Madura United di jurang degradasi. Dengan delapan laga tersisa, napas Juku Eja di kasta tertinggi kini sedang dipertaruhkan.

Namun, bagi asisten pelatih Ahmad Amiruddin, musuh terbesar PSM saat ini bukanlah lawan di lapangan, melainkan "hantu" di dalam pikiran para pemainnya sendiri.

Amiruddin enggan bersembunyi di balik alasan kelelahan fisik. Baginya, penurunan performa tersebut adalah sinyal rapuhnya kesiapan mental.

Ia melontarkan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah nurani setiap penggawa: "Apakah kita memang mau memberikan lebih ke PSM, atau kita sekadar menjalankan kewajiban?"

Kalimat itu bukan sekadar kritik, melainkan sebuah cermin. Di mata tim pelatih, talenta sehebat apa pun akan menjadi bumerang jika tidak dibarengi dengan komitmen.

Pergantian pemain yang diharapkan menjadi suntikan tenaga baru justru kerap menjadi celah yang merugikan tim.

Kini, jelang keberangkatan ke Bantul untuk menghadapi PSIM Yogyakarta pada Jumat mendatang, PSM tidak hanya sedang memoles fisik di lapangan latihan.

Ada sesi "bicara hati ke hati" yang harus diselesaikan. Para pemain ditantang untuk membuktikan kembali identitas mereka sebagai petarung.

Sebab, di sisa musim Super League 2025/26 yang kian kejam, hanya ada dua pilihan bagi mereka yang mengenakan seragam kebesaran merah marun: bangkit memberikan segalanya demi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, atau terpuruk dalam rutinitas yang berakhir dengan penyesalan.

Bagi suporter setia, mereka tidak hanya menunggu kemenangan. Mereka menunggu kembalinya nyali Siri' na Pacce yang pernah membuat lawan gemetar saat bertandang ke markas para petarung ini.

Kini, bola ada di kaki para pemain: sekadar bekerja, atau bermain dengan jiwa?