Home > PSM
Aksa Mahmud, Yuran Fernandes dan Tomas Trucha - (foto by Andi Suruji)

BUS besar baru berwarna dominan merah marun, berlambang pinisi, meluncur di aspal Kota Makassar. Laksana perahu yang berlayar membelah ombak. Membawa pasukan tempur menuju arena perang. 

Pinisi bermesin itu kemudian berlabuh di kota dagang Parepare. Menggoreskan jejak eksistensi dan harapan sepanjang jalan.

Bus baru itu menorehkan sejarah sebagai kendaraan tim milik sendiri klub yang pertama sejak PSM tercatat lahir 1915, menjelang usia 111 tahun. Pengadaannya, menjadi bukti upaya serius manajemen melengkapi kebutuhan pemain sebagai klub profesional.

Malam itu PSM pun mengenakan jersey baru, berwarna biru. Gagah disorot lampu stadion. Di dadanya bertuliskan Bosowa. Perusahaan yang selama ini menjadi pilar dan penopang utama PSM tetap eksis di kompetisi kasta tertinggi sepak bola nasional.

Bus baru dan jersey baru itu, rupanya belum cukup kuat mengangkat performa tim di lapangan. Anak-anak PSM hanya mampu meraih satu poin di kandang sendiri, Stadion BJ Habibie, Parepare, setelah bermain imbang tanpa gol dengan Semen Padang, tim zona degradasi.

Hasil ini ternyata belum mampu mengobati kegelisahan para fans PSM. Dari dulu, tidak pernah begini PSM. Ada sesuatu yang perlu dicek ulang. Begitu kata Toni Ho, mantan pemain PSM, untuk tidak mengatakan ada sesuatu yang salah.

Pelatih yang pernah membawa PSM juara dan asisten pelatih Timnas, Syamsuddin Umar pun tak mampu menyembunyikan kegelisahannya. Anak-anak PSM seolah kehilangan roh, fighting spirit.

Mantan manajer PSM Husain Abdullah juga demikian. Pemain PSM seperti lupa cara mencetak gol dan cara menang, katanya.

Aksa Mahmud, founder Bosowa, seakan membaca kegelisahan publik penggemar dan internal PSM sendiri. Pada malam yang basah karena hujan, di pantai Center Poin of Indonesia, Aksa Mahmud duduk satu meja dengan pelatih kepala Tomas Trucha. Dikelilingi pemain dan ofisial PSM lainnya.

Mereka menyantap makan malam ala Jepang, yakiniku, yakitori, yakimono. Pemilik warung hanya menyajikan nasi dan bumbu siap santap. Selebihnya bahan mentah. Olah sendiri dulu baru makan. 

Hasil kerja tergantung upaya masing-masing. Masih mentah, setengah matang, atau hangus, kamulah yang menentukan sendiri.

Kebetulan atau dirancang, makan malam itu terasa simbolik dan sarat pesan bahwa jika ingin kenyang, bekerja terlebih dulu baru makan. 

Usai makan malam, Aksa Mahmud berdiri. Memanggil kapten tim Yuran Fernandes pindah ke tempat duduknya. Bagi orang Bugis menyerahkan tempat duduk, kursi yang diduduki sebelumnya, kepada orang lain adalah bahasa simbolik.

Ya, simbolik. Dapat bermakna bahwa yang diberi tempat duduk itu adalah orang yang dipercaya, diandalkan. Juga simbol bermakna dukungan penuh untuk mencapai hasil terbaik.

Suara Aksa Mahmud memecah keheningan. PSM ini nama besar, legenda. Klub tertua di Indonesia. Dari lima klub perserikatan yang bertahta di kasta tertinggi kompetisi sepak bola nasional, tinggal PSM yang tidak pernah degradasi. 

Empat klub nama besar lainnya, Persib, Persija, Persebaya, dan PSMS Medan sudah pernah menderita. Merasakan betapa getirnya terdegradasi dari kasta tertinggi.

Oleh karena itu, lanjut Aksa, tidak ada tim kuat dan lemah. Mereka sedang bagus, kalian pun tidak lemah. Semua tim bisa dikalahkan kalau kalian kompak, disiplin, dan punya tekad bersatu dan bersama.

"PSM adalah kebanggaan dan kehormatan masyarakat Sulsel. Kebanggaan dan kehormatan itu harus dijaga," katanya.

Nasihat Aksa Mahmud terasa klise, repetisi. Tetapi pesan-pesan "orang tua" selalu baik dan kadang memang harus digaungkan berulang kali. Diperlukan untuk menanamkan dan menguatkan kembali. Mengasah ketajaman falsafah PSM, siri' na pacce (harkat dan martabat) dalam segala cara, agar tidak berkarat dan tumpul.

Performa tim PSM pun lantas agak membaik melawan PSBS Biak, tim zona degrasi. Walaupun masih tampak bolong pada berbagai sektor, poin penuh kemenangan 2-1 merupakan penghiburan. Laksana oase penyejuk dalam suasana kehausan akan kemenangan. Ya kemenangan yang belum terasakan dari tujuh pertandingan sebelumnya. 

Harapan patut digantungkan. Kiranya kemenangan itu menjadi titik balik bangkitnya kembali performa tim. Turn around a tide, menggulung ombak agar dapat tetap berlayar. 

Sabtu 14 Februari 2026 di Stadion BJ Habibie, melawan Dewa United adalah momen pembuktian kembangkitan kembali bagi Tomas Trucha dan anak-anak PSM, para laskar pinisi. 

Suntikan vitamin dan suplemen (pemain rekrutan baru) oleh manajemen juga sudah terpenuhi. Menghapus kegalauan akan sanksi FIFA terkait rekrutmen pemain. 

Thanks to management. Tidak ada jalan buntu selama ada ikhtiar. Dan kita pun terus berharap petuah Pak Aksa senantiasa bertuah, mengiringi upaya-upaya keras manajemen dan pemain.

Pelaut, awak pinisi pantang berputus asa menghadapi gelombang dahsyat walau perahu pecah sekalipun. Itulah makna terdalam lambang pinisi di dada jersey PSM. Apalagi diikat kuat pula dengan tekad yang paten, kualleangi tallanga na towalia.

Selama komitmen dan konsisten melaksanakan tanggung jawab (siri' na pacce) secara sungguh-sungguh dan sepenuh hati, di sana selalu ada harapan. Tuhan pun tidak berpaling. Dia Yang Maha Kuasa akan senantiasa merahmati orang-orang yang tetap bersabar, terus berikhtiar, dan selalu berdoa. Ewako..!