Home > PSM

Penulis Satu Abad PSM Beberkan Filosofi Julukan Klub ke Tomas Trucha

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Penulis buku Satu Abad PSM Mengukir Sejarah, M. Dahlan Abubakar, turut hadir dalam kunjungan budaya PSM Makassar ke Benteng Fort Rotterdam, Kamis (13/11) sore. 

Dalam kesempatan tersebut, Dahlan memberikan penjelasan langsung kepada pelatih baru Tomas Trucha, para pemain, dan ofisial tim mengenai asal-usul julukan yang melekat pada klub tertua di Indonesia itu.

Di hadapan skuad Juku Eja, Dahlan menjabarkan makna empat julukan legendaris yang menjadi identitas PSM Makassar selama lebih dari satu abad perjalanan klub. Ia mengawali penjelasannya dengan kisah tentang julukan “Juku Eja”, yang lahir dari pengamatan wartawan pada era awal sepak bola Makassar.

“Juku Eja itu bermula ketika wartawan senior dulu melihat pemain PSM lari di lapangan. Ia membayangkan mereka seperti ikan merah di laut, gesit dan lincah. Maka lahirlah sebutan Juku Eja,” jelas Dahlan.

Selanjutnya, Dahlan mengungkap sejarah lahirnya julukan “Ayam Jantan dari Timur”, yang muncul pada kompetisi nasional tahun 1984.

“Waktu itu kita bersaing dengan PSMS Medan yang dikenal dengan Ayam Kinantan. Karena PSM satu-satunya tim dari kawasan timur, maka disebutlah Ayam Jantan dari Timur,” ungkapnya.

Tak berhenti di situ, Dahlan juga menuturkan awal mula sebutan “Pasukan Ramang” yang muncul di era 1990-an. Julukan ini menjadi simbol kebangkitan PSM setelah mengalami masa paceklik gelar lebih dari dua dekade.

“Julukan itu muncul untuk membangkitkan semangat pemain. Dari 50 pemain disaring jadi 25, dan mereka diasuh oleh Pak Syamsuddin Umar. Semuanya terinspirasi dari semangat Ramang,” ujarnya.

Sementara itu, sebutan “Laskar Phinisi” disebut Dahlan sebagai julukan paling baru, menggambarkan ketangguhan dan semangat juang PSM dalam menghadapi setiap tantangan di lapangan.

“Phinisi itu kapal tangguh yang tak gentar melawan ombak dan badai. Sama halnya dengan PSM. Ada semboyan yang kami pegang: bola boleh lewat tapi orang tidak, orang boleh lewat tapi bola tidak. Kalau dua-duanya lewat, lihat di kotak 16, lusur,” tutur Dahlan dengan nada bangga.

Dahlan mengaku senang dapat menyampaikan langsung kisah di balik julukan-julukan bersejarah tersebut kepada Tomas Trucha dan skuad PSM. Ia berharap, pemahaman terhadap sejarah panjang klub bisa menjadi sumber inspirasi baru bagi seluruh pemain.

“Saya sangat bergembira karena ini kesempatan pertama bertemu langsung dengan mereka. Walau tidak selalu hadir di stadion, saya tidak pernah absen menonton PSM di layar TV untuk menulis di rubrik Bola Bundar. PSM bukan tim kecil, bukan tim kemarin. Sudah 110 tahun kita,” ucapnya.

Kehadiran M. Dahlan Abubakar di Benteng Fort Rotterdam menjadi momen istimewa bagi PSM Makassar. Penjelasan sarat makna sejarah tersebut memperkuat semangat Tomas Trucha dan para pemain untuk menjaga marwah klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.

Liputan: Rifki