Rumah Itu Bernama PSM bagi Agung Mannan dan Nur Hidayat
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ada pepatah yang mengatakan,
sejauh apa pun seseorang merantau, rumah akan selalu menjadi tempat untuk
pulang. Kisah itu kini terasa nyata bagi Agung Mannan dan Nur Hidayat.
Setelah menempuh perjalanan karier di berbagai klub, dua
putra terbaik Sulawesi Selatan itu akhirnya kembali mengenakan seragam merah
marun kebanggaan, seragam yang pernah membesarkan nama mereka bersama PSM
Makassar.
Kepulangan Agung dan Nur Hidayat menjadi kabar yang disambut
hangat oleh suporter Pasukan Ramang menjelang bergulirnya kompetisi musim
2026/2027.
Keduanya telah bergabung bersama skuad PSM, menjalani
medical check-up, dan bersiap mengikuti latihan resmi sebagai bagian dari
persiapan tim di bawah arahan pelatih Darije Kalezic.
Bagi Agung Mannan, kembali ke Makassar bukan sekadar
berpindah klub. Bek asal Pangkep itu pernah menjadi bagian dari perjalanan
bersejarah PSM saat menjuarai Liga 1 2022/2023.
Setelah meninggalkan Juku Eja, ia melanjutkan petualangan
bersama Dewa United, sempat dipinjamkan ke Bali United, lalu memperkuat Persis
Solo.
Pengalaman yang diperoleh dari berbagai klub di level tertinggi
sepak bola Indonesia kini menjadi bekal berharga untuk kembali mengawal
pertahanan tim kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.
Cerita serupa juga dimiliki Nur Hidayat. Bek kelahiran
Makassar itu kembali ke kota yang membesarkan kariernya setelah beberapa musim
mengembara.
Kepulangannya bukan hanya menambah pilihan di lini belakang,
tetapi juga membawa pengalaman dan kedewasaan yang ditempa dari persaingan di
klub-klub lain.
Bagi PSM, kehadiran kembali dua putra daerah ini memiliki
makna yang lebih dalam daripada sekadar menambah jumlah pemain.
Mereka datang dengan pemahaman akan budaya klub, karakter
permainan yang identik dengan semangat juang ‘Ewako’, serta ikatan emosional
yang telah terbangun sejak lama bersama suporter.
Momentum ini juga menjadi bagian dari upaya PSM membangun
kembali kekuatan setelah melalui musim 2025/26 yang berat.
Pasukan Ramang menutup kompetisi di peringkat ke-15 klasemen
dengan 34 poin hasil dari delapan kemenangan, 10 kali imbang, dan 16 kekalahan.
Catatan tersebut menjadi evaluasi besar bagi manajemen untuk
membentuk skuad yang lebih kompetitif menghadapi musim baru.
Di tengah proses pembenahan itu, kepulangan Agung Mannan dan
Nur Hidayat menghadirkan secercah optimisme.
Mereka kembali bukan sebagai pemain muda yang mencari
tempat, melainkan sebagai pesepak bola yang telah ditempa pengalaman.
Kini, keduanya pulang membawa harapan baru, membantu PSM kembali
menemukan jati dirinya sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola Indonesia.
Sebab pada akhirnya, bagi Agung Mannan dan Nur Hidayat, PSM
bukan sekadar klub. PSM adalah rumah. Dan setiap perjalanan, sejauh apa pun
langkah membawanya pergi, selalu memiliki jalan untuk kembali pulang.
