Hilman Ungkap Misi Darije Kalezic Kembalikan Identitas PSM
Hilman Syah - (foto by @psm_makassar/instagram)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - PSM Makassar sedang mencoba menemukan kembali jati dirinya. Di tengah perubahan besar, ada satu identitas yang ingin dihidupkan kembali yakni siri’ na pacce dan semangat ewako.
Nilai tersebut diyakini bukan sekadar ungkapan yang melekat dengan masyarakat Sulawesi Selatan. Bagi PSM, siri’ na pacce dan ewako merupakan bagian dari karakter yang seharusnya tercermin dalam perjuangan pemain ketika mengenakan jersey Pasukan Ramang.
Kiper PSM, Hilman Syah, mengatakan era Darije Kalezic menjadi awal dari upaya membangun kembali karakter tersebut. Menurutnya, Juku Eja saat ini berada dalam fase perubahan.
"Saya cuma mau bilang, di era Coach Darije ini saya pikir kita ada di era yang baru, PSM yang baru. Karena kita sendiri, kita banyak kedatangan pemain baru lokal maupun asing, yang bisa dibilang lebih dari 50% lah kita mengganti pemain asing," kata Hilman dalam konferensi pers jelang laga melawan Arema FC, Sabtu (12/9) malam.
Perubahan komposisi pemain membuat PSM belum sepenuhnya menemukan bentuk permainan terbaik. Namun, proses tersebut justru menjadi ruang bagi Kalezic untuk menanamkan kembali karakter yang menurut Hilman sempat memudar pada musim sebelumnya.
"Kita masih mencari komposisi tim. Di mana Coach Darije ingin mengembalikan apa itu siri' na pacce dan ewako di dalam permainan kita di lapangan, dan yang saya pikir itu hilang di musim lalu," ujarnya.
Bagi PSM, siri’ menggambarkan harga diri dan kehormatan yang harus dijaga, sementara pacce mencerminkan rasa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
Adapun ewako menjadi ungkapan keberanian dan semangat pantang menyerah yang selama ini identik dengan karakter masyarakat Bugis-Makassar.
Nilai-nilai itu kemudian diharapkan tidak berhenti sebagai simbol atau slogan. Kalezic ingin menerjemahkannya menjadi keberanian bertanding, kerja keras, solidaritas antarpemain, serta keberanian menghadapi setiap lawan.
Proses tersebut tentu membutuhkan waktu. Terlebih, lebih dari separuh pemain asing PSM mengalami perubahan dan sejumlah pemain lokal baru juga masuk ke dalam skuad.
"Jadi kami masih butuh waktu untuk mencari komposisi tim," kata Hilman.
Namun, proses membangun kembali identitas tersebut harus dimulai sejak sekarang. Laga melawan Arema FC menjadi salah satu kesempatan bagi PSM untuk menunjukkan karakter yang sedang dibentuk Kalezic.
Ironisnya, Pasukan Ramang harus menjalani pertandingan kandang tanpa kehadiran langsung suporter di Stadion BJ Habibie, Parepare.
Sanksi disiplin membuat tribun stadion tidak dapat dipenuhi oleh pendukung PSM yang biasanya menjadi sumber energi tambahan bagi pemain.
Hilman mengakui absennya suporter menjadi kerugian tersendiri bagi PSM. Apalagi, laga tersebut merupakan pertandingan kandang pertama Pasukan Ramang pada Super League 2026/27.
"Dan sangat disayangkan untuk pertandingan besok tanpa dihadiri oleh suporter PSM Makassar. Itu sangat merugikan kami tentunya, karena kita bermain di kandang sendiri," tuturnya.
Meski stadion tanpa riuh suporter, Hilman memastikan semangat tim tidak ikut hilang. Ia percaya dukungan suporter tetap dapat dirasakan para pemain, meski kali ini tidak datang langsung dari tribun.
"Tetapi ya kita tetap optimistis untuk menatap pertandingan besok dan mencari kemenangan perdana di musim ini. Dan tentu saja doa dan dukungan suporter PSM akan bersama kita di pertandingan besok," katanya.
Laga ini menjadi kesempatan bagi PSM untuk mulai memperlihatkan wajah baru yang sedang dibangun Kalezic.
Wajah PSM yang tidak hanya mengandalkan kualitas individu, tetapi juga keberanian, harga diri, solidaritas, dan semangat untuk berjuang hingga akhir.
Sebab, bagi Pasukan Ramang, siri’ na pacce dan ewako bukan sekadar kata. Ketiganya adalah bagian dari jiwa yang ingin kembali terasa setiap kali pemain PSM turun ke lapangan.
