Pernah ‘Dimakan’ Ramang, Tiga Minggu Tak Bisa Jongkok

M Basri - (int)

Oleh: M.Dahlan Abubakar (Penulis Buku Ramang Macan Bola)

Boleh jadi karena asyik mengikuti sisa-sisa kisah perhelatan sepak bola dunia 2026 di layar kaca TVRI Sports, hingga saya tidak tahu kalau seorang pemain dan pelatih legendaris Indonesia, M Basri berpulang ke rahmatullah 23 Juli 2026. Informasi ini saya peroleh ketika diberi tahu Andi Suruji menjelang peluncuran buku di Red Corner Cafe, Kamis siang. M Basri menghembus napasnya yang terakhir di sebuah rumah sakit di Surabaya, Jawa Timur dalam usia 84 tahun .

Bagi publik Malang dan Surabaya, nama M Basri bukan sekadar sosok di dunia sepak bola nasional, melainkan merupakan pelatih yang meletakkan fondasi kejayaan Arema FC dan juga Niac Mitra yang lebih tua pada masanya.

Pria kelahiran Makassar 5 Oktober 1942 itu saya kenal baik. Dua kali saya melakukan perjalanan ke luar negeri dengan M Basri membawa PSM. Pertama, pada paruh tahun 1996 ke Korea Selatan saat PSM berhadapan Pohang Atom FC, dalam Champions Cup Asia. PSM kalah telak 0-4 di bawah suhu dingin yang sangat menusuk sumsum tulang.

Kedua, Desember 1996, PSM mewakili Indonesia mengikuti Piala Bangabandhu di Dakka, Bangladesh. Pak Basri sebagai pelatih PSM ketika itu. PSM ditunjuk mewakili Indonesia karena runner up Liga Indonesia yang dimenangkan Bandung Raya. Ofisial yang ikut di antaranya Mallawing (alm) dan wartawan, selain saya, ada rekan Syarif Amir (Harian Fajar, ketika itu).

Ketika tiba di Dakka, PSM dipandang sebelah mata oleh media Bangladesh. Namun ketika menggulung juara Bangladesih dengan angka telak dan masuk final menghadapi Malaysia, barulah para wartawan setempat merubung tim PSM di hotel tempat kami menginap. PSM kalah 3-4 atas tim Malaysia yang dipersiapkan mewakili negeri jiran itu ke SEA Games berikutnya. Lucunya, enam pemain PSM dilirik oleh Kalkutta, untuk memperkuat tim asal India itu.

Rekam jejak karier M Basri: sebagai pemain :1961: Klub MOS Makassar, 1968: Pardedetex, 1973: HBS Surabaya. Tim nasional: PSSI Asian Games 1962, 1966, 1970, 1974, 1982, PSSI Ganefo 1962, PSSI Pra Olimpiade 1968, Piala Asia 1968, PSSI King's Cup 1969 (Juara), 1970 (Runner-up), 1971, PSSI Merdeka Games 1967, 1969 dan 1970 (Juara), PSSI Pesta Sukan 1970 (Juara), PSSI Pra Piala Dunia 1973.

Sebagai Pelatih: 1977: Persebaya Surabaya, 1979: PSSI Pratama, 1980-1986: Niac Mitra, 1983: Timnas Pra Olimpiade, 1989: Timnas Pra Piala Dunia, Timnas SEA Games, 1991-1993: Arema Malang, 1994: Mitra Surabaya, 1995-1997: PSM Makassar, 2000: Arema Malang, 2003: Persim Maros, 2004: Persita Tangerang,  2005: PSM Makassar, dan 2007-2009: Persela Lamongan.

Prestasi kepelatihan: 1977: Juara Kompetisi Perserikatan (Persebaya Surabaya). 1981: Juara Galatama (Niac Mitra). 1982: Juara Galatama (Niac Mitra). 1986: Juara Galatama (Niac Mitra). 1986: Juara Agha Khan, Bangladesh (Niac Mitra). 1993: Juara Galatama (Arema Malang). 1996: Finalis Liga Indonesia (PSM Makassar). 1996/1997: PSM runner up Bangabandhu Cup Bangladesh. 

Basri termasuk salah seorang pemain PSM yang pernah bermain dengan Ramang. Sebagai pemain muda usia, dia selalu bangga dan ingin memiliki kemampuan seperti yang dipunyai Ramang. Sebagai pemain muda, Basri selalu memperoleh dorongan dari Ramang. Soalnya, kalau dia tidak dukung, mana bisa masuk skuad PSM.  

Ada satu pengalaman Basri yang terkait dengan Ramang. Ketika usia 17 tahun, Basri memperkuat klub MOS dalam kompetisi PSM. Lawan MOS kala itu adalah Persis. Ramang juga ikut main. Suatu saat Ramang membawa bola, sebagai pemain belakang, Basri tidak ingin membiarkan Ramang lewat begitu saja menggiring bola. Basri berusaha merebut si kulit  bundar. Bola ‘terampas’, Ramang pun terjatuh. 

"Hati-hati anak muda," desis Ramang ketika bangun dari jatuh.

"Saya juga mau maju, Pak!" gumam Basri.

Sehabis jatuh karena diadang Basri, Ramang muncul lagi. Biasa, menggiring si kulit bundar. Tepat di depan Basri, dia dorong bola dengan jarak tanggung dari dirinya. Basri  di depannya. Basri tidak ingat, bagaimana proses ‘tackling’ itu terjadi. Yang pasti, Basri baru tahu dirinya sudah diangkat ke luar lapangan. Tiga minggu dia tidak bisa goyang. Kalau mau jongkok saja, dia harus setengah berdiri. 

"Ramang itu pemain brillian. Tetapi itulah negatifnya, kalau dia mau ‘makan’ orang, pasti kejadian," kenang Basri dalam percakapan dengan saya selama 90 menit itu di Hotel Makassar Golden, 29 Juni 2010.

Pernah ada satu ketika, pada tahun 1967-1968, tiga pemain PSM ditawarkan jadi polisi, Basri, Manan, dan John Simon. Pangkatnya lumayan, langsung Inspektur Polisi (IP) 2. Basri tidak tertarik, hanya Manan dan John Simon yang menerima tawaran tersebut.

Waktu Mayor Syamsuddin – ayah Sjahrie Syamsuddin yang Menteri Pertahanan sekarang --  sebagai Ketua PSM, para pemain PSM ini juga ditawari masuk Akabri. Juga ditolak Basri. Hanya Solong dan Rasyid Dahlan menerima tawaran jadi tentara. Pangkatnya, letnan dua.

"Saya sipil saja," kata Basri yang digadang-gadang dikasih NP Basri, menggantikan salah seorang pejuang 45 yang sudah gugur. Basri merasa, tidak cocok menggantikan posisi orang yang sudah meninggal.

Salah satu kenangan Basri yang tak terlupakan adalah ketika memperkuat tim nasional menghadapi kesebelasan Santos Brasil dengan bintangnya Pele, tahun 1970 di Stadion Utama Senayan. PSSI kalah 2-3 waktu itu. Dua gol Indonesia diborong Risdianto. Waktu itu, PSSI dilatih Endang Witarsa dan EA Mangindaan.

"Saya pernah menjaga Pele. Alangkah cepatnya, tiba-tiba saja dia sudah ada di belakang saya," kenang Basri kepada saya sembari tertawa.