Makassar Luncurkan Urban Farming, Libatkan 6.000 RT
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pemerintah Kota Makassar resmi meluncurkan program Urban Farming sebagai langkah strategis untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan dan meningkatkan kemandirian pangan masyarakat kota.
Program ini dicanangkan langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, dalam kegiatan yang digelar di Kelompok Wanita Tani (KWT) Talas, Jalan Sunu, kompleks Unhas.
“Kota Makassar adalah kota dengan lahan pertanian yang sangat terbatas. Maka hadirnya program Urban Farming, diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, menjadikannya salah satu inovasi perkotaan,” ujar Munafri.
Urban farming akan dijalankan di lebih dari 6.000 RT yang tersebar di seluruh kota. Selain menanam sayur dan tanaman hias, program ini juga mencakup budidaya magot, eco-enzyme, ternak ayam petelur, hingga budikdamber (ikan lele dalam ember).
Munafri menyebutkan bahwa urban farming bukan sekadar kegiatan pertanian skala rumah tangga, melainkan “jawaban atas tantangan keterbatasan lahan serta upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif.”
Dalam kesempatan itu, turut hadir Ketua TP PKK Makassar Melinda Aksa Mahmud, Sekda Andi Zulkifly Nanda, jajaran SKPD, dan akademisi dari Universitas Hasanuddin.
Pemkot Makassar melalui Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) mencatat hanya terdapat sekitar 1.463 hektare lahan pertanian aktif, dengan sebaran terbesar di Kecamatan Manggala (469 ha), Tamalate (342 ha), dan Tamalanrea (307 ha).
“Hingga kini, kami telah mendampingi 458 kelompok tani perkotaan,” ujar Kepala DP2, Aulia Arsyad. Kelompok ini terdiri dari 181 KWT hortikultura, 79 kelompok tani pangan, 15 peternak, 53 pembudidaya ikan, dan 130 pengolah produk pangan.
Urban farming Makassar juga mengadopsi Smart Digital Farming, seperti sistem irigasi otomatis, solar panel, serta aplikasi nutrisi tanaman dan ternak berbasis digital.
Sebagai langkah pemasaran, Pasar Tani rutin digelar dua kali sebulan, mempertemukan petani dengan konsumen kota.
“Pasar tani menjadi titik temu antara petani dan masyarakat urban, yang tak hanya menjual hasil segar, tetapi juga produk olahan seperti telur asin dan keripik,” tambah Aulia.
Selain itu, Pemkot Makassar mengembangkan pengelolaan limbah organik lewat komposter rumah tangga, budidaya magot, dan kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup.
Munafri berharap dua hingga tiga tahun ke depan, Makassar bisa menjadi pusat eksibisi urban farming nasional dengan berbagai inovasi pertanian kota. Ini soal perubahan cara berpikir dan hidup.
Jika kamu membutuhkan versi untuk media cetak, caption sosial media, atau press release resmi, saya bisa bantu sesuaikan.
Berikut sebaran lahan pertanian aktif di Kota Makassar:
– Kecamatan Manggala: 469 hektare
– Tamalate: 342 hektare
– Tamalanrea: 307 hektare
– Biringkanaya: 288 hektare
– Panakkukang: 29 hektare
– Tallo: 18 hektare
– Rappocini: 7 hektar
181 Kelompok Wanita Tani (KWT) Hortikultura
– 79 Kelompok Tani Pangan
– 15 Kelompok Peternak
– 53 Kelompok Pembudidaya Ikan
– 130 Kelompok Pengolah Produk Pangan.
