Busana Empat Etnis Sulsel Warnai HUT ke-418 Kota Makassar

Seorang ASN Pemkot Makassar yang hadir dalam upacara HUT ke-418 Makassar memggunakan pakaian adat Toraja - (foto by Rifki)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Lapangan Karebosi sontak berubah menjadi lautan warna, Minggu (9/11/2025) pagi. Ribuan warga, aparatur sipil negara, dan tamu undangan tampil anggun mengenakan pakaian adat dari empat etnis besar Sulawesi Selatan yakni Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja dalam peringatan Hari Jadi Kota Makassar ke-418.

Perayaan yang mengusung tema “Merajut Harmoni, Membangun Kebersamaan” ini menjadi simbol nyata keberagaman dan semangat persatuan masyarakat Makassar. Tak hanya menonjolkan sisi seremonial, HUT tahun ini juga dirancang untuk mencerminkan Makassar sebagai kota multikultural yang tumbuh dari nilai harmoni dan toleransi.

Sejak pagi, tribun utama Lapangan Karebosi dipenuhi sederet tamu kehormatan. Suasana nampak meriah dengan penampilan marching band Dankorps Makassar dan tari kolosal Pa’rimpungan yang melibatkan 418 pelajar mencerminkan usia kota Daeng yang ke-418 tahun.

Busana adat yang dikenakan para hadirim menjadi daya tarik tersendiri. Warna merah menyala dari sarung sutra Bugis misalnya, nuansa hitam elegan dari pakaian adat Makassar, hingga keemasan dari busana Toraja, dan indahnya anting-anting perempuan Mandar berpadu indah di tribun. Setiap langkah, setiap kain yang dikenakan, seolah menyampaikan pesan bahwa mengalir keberagaman di Makassar

Salah satu MC acara, Andin dari Protokol Kota Makassar, tampil mencolok dengan busana adat Toraja yang Ia padukan bersama aksesori khas daerah Tondok Lepongm Bulan. Ia mengaku memilih pakaian itu untuk tampil berbeda dari tahun sebelumnya.

“Kalau saya untuk tahun ini memilih adat Toraja karena ingin berbeda dari sebelumnya. Tahun lalu saya pakai busana Bugis, jadi kali ini saya ingin tampil dengan nuansa lain,” ujar Andin kepada CelebesMedia.

Andin mengungkapkan, pilihannya tak sekadar estetika. Ia merasa memiliki kedekatan tersendiri dengan budaya Toraja karena pernah menjabat sebagai Lurah Paropo, wilayah yang memiliki komunitas warga Toraja di Kampung Rantepao-Makale (Rama).

“Waktu jadi bu lurah di Paropo, saya banyak berinteraksi dengan masyarakat Toraja di sana. Jadi ada kedekatan emosional juga,” tambahnya.

Busana yang dikenakannya pun disewa langsung dari warga Toraja asli di Kelurahan Paropo, Jalan Batua Raya.

“Aksesoris dan bajunya saya sewa dari orang Toraja asli. Makanya kelihatannya bagus dan otentik,” kata Andin tersenyum.

Di balik kemeriahan, Andin menitipkan harapan agar semangat keberagaman ini menjadi pondasi perdamaian di Kota Daeng.

“Harapannya Kota Makassar sudah berdamai, tidak ada lagi anarkisme. Semoga warga bisa terus membangun kota ini jadi lebih baik lagi,” tuturnya.

Pesan yang sama juga disampaikan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dalam sambutannya. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi dan keterlibatan semua elemen masyarakat dalam membangun Makassar yang inklusif.

“Kota ini harus dibangun bersama, dengan kolaborasi dan ruang diskusi yang luas. Kami ingin Makassar menjadi kota yang maju, unggul, dan inklusif,” tegasnya.

HUT ke-418 Kota Makassar tahun ini bukan hanya pesta seremonial, tetapi juga perayaan identitas bahwa di tengah perbedaan, Makassar tetap satu dalam semangat harmoni.

Laporan: Rifki