Sulsel Dilanda Kekeringan, HTH Capai 92 Hari di Maros
Ilustrasi sawah yang kekeringan - (foto by dok Celebes TV)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Kekeringan mulai meluas di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel). Berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 31 Agustus 2026, sekitar 78 persen wilayah Sulsel berada dalam kategori panjang hingga ekstrem panjang.
Data tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah Sulsel mengalami HTH selama 21 hingga lebih dari 60 hari. Kondisi ini menjadi salah satu indikator yang dapat menggambarkan adanya potensi kekeringan di suatu wilayah.
Forecaster BMKG Wilayah IV Makassar, Nurrohmi Utami mengatakan pihaknya belum dapat menyampaikan status siaga kekeringan secara utuh. Namun, perkembangan HTH menjadi salah satu parameter yang terus dipantau.
“Untuk status siaga kekeringan kami belum bisa menyampaikan secara utuh. Namun, yang dirilis secara update adalah Hari Tanpa Hujan yang mungkin bisa berkorelasi dengan kondisi kekeringan yang terjadi,” ujarnya, Senin (7/9).
Berdasarkan hasil monitoring, HTH terpanjang tercatat di Pattene, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros. Wilayah tersebut mengalami 92 hari berturut-turut tanpa hujan atau curah hujan kurang dari 1 milimeter.
Kondisi itu masuk dalam kategori ekstrem panjang, yakni HTH lebih dari 60 hari.
Kekeringan dengan kategori sangat panjang hingga ekstrem panjang juga tersebar di berbagai wilayah Sulsel. Sejumlah daerah yang terdampak antara lain Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, serta sejumlah wilayah lainnya.
Sementara itu, beberapa wilayah masih memiliki kondisi HTH yang relatif lebih rendah, terutama di Luwu Timur, Luwu Utara, dan sebagian Bone. Hari Tanpa Hujan di wilayah terjadi kurang dari 60 hari.
Wilayah Sulsel bagian utara dan timur juga masih memiliki titik yang mengalami hujan atau HTH dalam kategori pendek atau kurun waktu 6 - 20 hari.
BMKG memprediksi kondisi minim hujan masih dapat berlangsung hingga Oktober 2026. Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan iklim, terutama di daerah yang telah mengalami HTH panjang.
Fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi kering yang terjadi di Sulsel.
“Iya, salah satunya (dampak kekeringan) dari El Nino,” katanya.
Fenomena tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Dampaknya, sejumlah wilayah berpotensi mengalami periode kering yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
BMKG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan HTH dan kondisi atmosfer.
