Gunung Anak Krakatau Erupsi Beruntun, Status Siaga
Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda - (foto by ANTARA/HO-Humas Kementerian ESDM)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat, wisatawan, hingga pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer dari puncak erupsi.
Imbauan ini dikeluarkan seiring dengan berlanjutnya erupsi beruntun dan naiknya aktivitas vulkanik di perairan Selat Sunda tersebut.
Saat ini, status Gunung Anak Krakatau bertahan pada Level III (Siaga).
Sepanjang hari ini, Selasa (20/10), pos pengamatan mencatat telah terjadi tiga kali letusan hebat. Erupsi pertama tercatat pagi hari pukul 06.27 WIB dengan amplitudo maksimum 67 milimeter berdurasi 3 menit 53 detik, lalu disusul letusan kedua pukul 06.40 WIB. Letusan ketiga kembali terjadi pada siang hari pukul 12.28 WIB.
Tinggi kolom abu tidak dapat terlihat secara visual karena tertutup sebaran abu tebal serta kendala operasional CCTV di lokasi.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap jarak aman menjadi aspek kunci demi keselamatan warga.
"Warga dilarang keras memasuki wilayah dalam radius satu kilometer dari kemunculan pulau baru di sekitar kawasan tersebut," kata dia, dikutip dari Antara.
Selain zona larangan lima kilometer dari pusat erupsi, otoritas terkait juga memperketat pembatasan pada sektor barat laut dan tenggara. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi berbagai risiko bahaya di zona merah, mulai dari lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, hingga erupsi sekunder akibat kontak lava panas dengan air.
Atas eskalasi yang terus memuncak, pihak berwenang mengimbau semua pihak untuk tidak mengabaikan arahan keselamatan resmi demi menghindari bahaya laten vulkanis.
"Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi tegas agar masyarakat, pengunjung, wisatawan, serta pendaki, mematuhi larangan beraktivitas di dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau," tegas Lana.
Meski rangkaian letusan terus terjadi di perairan Lampung-Banten, pemerintah mengimbau warga pesisir agar tidak panik dan menyaring setiap informasi yang beredar.
