Jemaah Haji Tertua Bone Berusia 95 Tahun

Husain Beddumang jemaah haji tertua asal Bone berusia 95 tahun tergabujg dalam kloter 3 embrkasi Makassar - (foto by Akbar)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Langkah pelan namun pasti terlihat dari sosok Husain Beddumang saat berada di Asrama Haji Sudiang, Makassar. Di usianya yang telah mencapai 95 tahun, ia menjadi jemaah calon haji tertua dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Husain, sapaan akrabnya merupakan bagian dari 387 jemaah yang tergabung dalam Kloter 3 Embarkasi Makassar. 

Mereka dijadwalkan berangkat pada Kamis dini hari (23/4). Di antara ratusan jemaah, kisah Husein mencuri perhatian karena perjalanan panjang yang ia tempuh untuk sampai di titik ini.

Ia telah menunggu selama 15 tahun sejak mendaftar pada 2011, saat usianya masih 80 tahun. 

Penantian itu bukanlah hal mudah, apalagi mengingat usianya yang terus bertambah. Namun, harapan untuk menunaikan ibadah haji tak pernah surut.

Rasa bahagia pun tak bisa ia sembunyikan ketika kesempatan itu akhirnya datang. Terlebih, ia tidak sendiri. Dalam perjalanan suci ini, Husein didampingi oleh cucunya.

“Saya senang berangkat tahun ini, didampingi cucu,” ujarnya dengan wajah berbinar, Rabu (22/4/2026).

Perjalanan Husein menuju Tanah Suci dimulai jauh sebelum ia mendaftar. Sejak 2007, ia telah menyisihkan penghasilan dari hasil bertani dan beternak. 

Penjualan padi dan sapi menjadi sumber utama tabungannya, yang ia kumpulkan perlahan hingga cukup untuk mendaftar haji.

“Kumpul uang dari hasil sapi dan gabah, sedikit demi sedikit,” tuturnya.

Kini, di usia senja, ia membawa harapan sederhana. Di Tanah Suci nanti, ia ingin memanjatkan doa untuk anak-anaknya agar diberi kelapangan rezeki dan kesempatan yang sama untuk menunaikan ibadah haji.

“Saya berdoa semoga anak-anak saya juga bisa naik haji,” katanya.

Selain Husain, jemaah bernama Nurhalisa Rusdi juga menarik perhatian. Nurhalisa baru berusia 16 tahun sehingga ia menjadi jemaah termuda di kloter 3. Ia berangkat menggantikan ayahnya yang telah meninggal dunia, melanjutkan niat yang sebelumnya telah direncanakan bersama sang ibu sejak 2011.

Kini, Nurhalisa mendampingi ibunya dalam perjalanan ibadah tersebut. Berbagai persiapan telah ia lakukan, termasuk kesiapan mental dan doa-doa yang akan dipanjatkan selama berada di Tanah Suci.

“Saya berangkat menggantikan almarhum bapak, bersama ibu,” ucapnya.

Ia berharap seluruh proses ibadah berjalan lancar dan dapat kembali ke tanah air dalam keadaan sehat.

“Semoga dimudahkan dan pulang dengan selamat,” katanya.