Dua Pelaut Sulsel Pulang Setelah 5 Bulan Disandera di Somalia

Kapten Kapal MT Honour, Ashari Samadikun - (foto by ANTARA)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Lebih dari lima bulan mereka bertahan di atas kapal yang dikuasai perompak di perairan Somalia. Pada Selasa (6/10), dua di antara empat anak buah kapal (ABK) MT Honour 25 asal Indonesia itu kembali menginjakkan kaki di Tanah Air lewat Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Keduanya berasal dari Sulawesi Selatan yakni sang kapten, Ashari Samadikun dari Kabupaten Gowa, dan Adi Faizal, perwira kedua dari Kabupaten Bulukumba.

Kedua daerah itu sama-sama dikenal sebagai pemasok pelaut. Gowa berbatasan langsung dengan Makassar, sedangkan Bulukumba punya tradisi pelayaran yang melekat pada identitas daerahnya.

Dua pelaut dari dua kabupaten itu kini ada di antara 17 kru kapal yang menjadi korban penyanderaan.

Dua WNI lainnya adalah Wahudinanto, kepala kamar mesin atau chief officer asal Pemalang, Jawa Tengah, dan Fiki Mutakin asal Bogor, Jawa Barat. Sisa kru berasal dari India, Pakistan, dan Myanmar.

Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menyebut pembebasan itu terwujud lewat diplomasi tertutup dengan dukungan pemerintah negara bagian Puntland, Somalia, pada 29 September 2026. Selama berbulan-bulan pemerintah sengaja tidak membuka prosesnya ke media.

"Memang sejak awal kita tidak terbuka memberitahukan kepada media bagaimana proses ini, karena memang itu adalah suatu proses perundingan, negosiasi, diplomasi yang kita tidak ingin digunakan oleh pihak pembajak untuk menekan kita," kata Arrmanatha, Rabu (7/10), dikutip dari ANTARA.

Menurut Arrmanatha, kerahasiaan itu menjaga agar dinamika di meja perundingan tidak dimanfaatkan penyandera dan tidak membahayakan keselamatan para sandera.

Prosesnya juga panjang karena pemerintah harus berkoordinasi lintas negara. Mitra yang dilibatkan tidak hanya pemerintah Somalia dan pemilik kapal, tetapi juga perwakilan negara asal kru lain yang ikut menjadi korban.

Dalam penyampaiannya, Menlu menyoroti peran Ashari Samadikun. Ia memberi apresiasi tertinggi kepada pria asal Gowa itu atas tanggung jawabnya menjaga keselamatan seluruh kru, terutama para WNI, selama penyanderaan hingga proses pembebasan.

Arrmanatha juga berterima kasih kepada keluarga para ABK yang menurutnya menunjukkan kesabaran luar biasa selama setengah tahun terakhir, termasuk keluarga di Gowa dan Bulukumba yang menunggu kabar dari jauh.

Arrmanatha turut menyebut Menko PMK Sugiono, yang sebelumnya menjabat Menteri Luar Negeri, atas pengawalannya pada perundingan dan upaya pembebasan sejak awal insiden.

Kemlu, ujarnya, terus berkoordinasi berkala dengan Kementerian Perhubungan, keluarga, pemilik kapal, dan Komisi I DPR RI.

"Seperti yang tadi disampaikan oleh Pak Menko PMK saudara-saudara kita hari ini, telah kembali setelah mengalami situasi yang cukup sulit di atas kapal selama lima bulan lebih," katanya.