Inflasi Bulanan Sulsel 0,70% September 2026, Cabai Rawit Pemicu

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Inflasi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada September 2026 tercatat 0,70 persen secara month-to-month (m-to-m). Kenaikan harga pada periode ini terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 1,77 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan menunjukkan, selain kelompok makanan, minuman dan tembakau, sejumlah kelompok pengeluaran juga mengalami kenaikan harga sepanjang September. Kelompok pendidikan naik 0,41 persen, transportasi 0,56 persen, pakaian dan alas kaki 0,20 persen, serta perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,14 persen.

Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 0,04 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,15 persen, kesehatan 0,06 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,06 persen.

Sebaliknya, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya justru mengalami deflasi 0,20 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga hanya mencatat kenaikan sangat kecil, yakni 0,07 persen.

Dari sisi komoditas, cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi m-to-m Sulsel pada September 2026, dengan andil 0,21 persen.

Di posisi berikutnya terdapat daging ayam ras dengan andil 0,16 persen, kemudian telur ayam ras 0,05 persen dan tomat 0,04 persen.

Komoditas lain yang turut memberikan tekanan terhadap inflasi antara lain pemeliharaan/service dengan andil 0,03 persen, ikan bandeng atau ikan bolu 0,02 persen, bahan bakar rumah tangga 0,02 persen, tarif kendaraan roda dua online 0,01 persen, cumi-cumi 0,01 persen, serta akademi/perguruan tinggi 0,01 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi bulanan Sulsel pada September lebih banyak bersumber dari kebutuhan konsumsi sehari-hari, terutama bahan pangan.

Inflasi m-to-m sebesar 0,70 persen menggambarkan bahwa secara rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat Sulsel meningkat dibandingkan Agustus 2026. Dampaknya paling mudah dirasakan rumah tangga pada komponen pangan. Kondisi ini tidak otomatis berarti daya beli masyarakat turun secara keseluruhan. Namun, jika kenaikan harga pangan tidak diikuti pertumbuhan pendapatan rumah tangga,  porsi pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akan semakin besar.

Begitu pula tekanan dari komoditas pangan yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,56 persen terhadap inflasi bulanan Sulsel menandakan sebagian besar inflasi September berasal dari kelompok yang berkaitan langsung dengan konsumsi masyarakat.

Secara kumulatif, inflasi Sulsel sejak awal tahun hingga September 2026 (y-to-d) mencapai 3,22 persen. Sementara secara tahunan (y-on-y), inflasi tercatat 3,75 persen.