Ekonomi Sulsel Lesu di Tengah Tekanan Sektor Pertanian dan Ekspor

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) tercatat tumbuh sebesar 4,94 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2025. Angka ini menandai perlambatan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang berhasil mencatat pertumbuhan sebesar 5,78 persen.
Menurut data Bank Indonesia (BI) yang diekspose dalam bincang bersama media pada salah satu cafe di Makassar, Selasa (26/8) dipaparkan capaian 4,49 persen membuat Sulsel berada di peringkat ke-22 secara nasional dalam kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Penurunan ini bukan tanpa sebab. Beberapa sektor utama yang selama ini menjadi pilar pertumbuhan mengalami pelemahan, baik dari sisi produksi maupun konsumsi. Di sisi lain, tekanan pada belanja pemerintah dan tren perlambatan ekspor turut membayangi laju pertumbuhan daerah.
Sektor pertanian yang biasanya menjadi tulang punggung ekonomi Sulsel mengalami perlambatan cukup tajam. Pertumbuhannya tercatat hanya 3,36 persen (yoy), turun signifikan dari capaian triwulan I yang mencapai 15,73 persen. Hal ini disebabkan oleh normalisasi musim panen yang kembali ke pola Maret-April, yang berdampak pada penurunan produksi padi secara tahunan.
Meskipun sektor pertanian melambat, sektor perdagangan dan industri pengolahan tetap menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Kenaikan penjualan kendaraan baru yang mencapai 11 persen menjadi indikator membaiknya daya beli masyarakat, meskipun tidak cukup kuat untuk mengangkat pertumbuhan secara keseluruhan.
Industri pengolahan juga mencatat peningkatan, khususnya di sektor mikro dan kecil seperti makanan-minuman, tekstil, galian bukan logam, serta produk furnitur. Di saat yang sama, sektor konstruksi justru mengalami penguatan seiring peningkatan realisasi investasi sebesar 58 persen. Peningkatan konsumsi semen sebesar 5,76 persen menjadi indikator utama menguatnya aktivitas pembangunan.
Dari sisi sumber daya alam, sektor pertambangan mulai menunjukkan tren positif. Produksi nikel matte meningkat 12 persen, dan gas alam naik 8,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini membantu menopang laju pertumbuhan di tengah tekanan dari sektor lain.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga melambat ke angka 4,08 persen (yoy). Kondisi ini disebabkan oleh penurunan aktivitas konsumsi masyarakat setelah momen Ramadan dan Idul Fitri. Walaupun konsumsi masih menjadi komponen utama pertumbuhan, perlambatan ini memberikan tekanan tambahan bagi perekonomian.
BI juga mencatat ekspor luar negeri sebesar 7,46 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya dengan pertumbuhan 13,4 persen. Impor justru mengalami kontraksi tajam sebesar 11,65 persen. Ini menjadi indikasi melemahnya permintaan terhadap barang-barang modal dan bahan baku industri.
Bank Indonesia juga mencatat adanya penurunan belanja pemerintah sebesar 8,8 persen pada triwulan II 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi secara merata di seluruh tingkatan, mulai dari pemerintah desa hingga pusat, sebagai imbas dari kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan untuk menjaga keseimbangan fiskal.
Meski mengalami perlambatan, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Sulsel akan tetap tumbuh positif sepanjang 2025. Proyeksi pertumbuhan berada dalam kisaran 4,7 hingga 5,5 persen secara tahunan. Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap dalam sasaran 2,5 persen dengan deviasi ±1 persen.
Inflasi Sulsel Terkendali
Inflasi Sulsel pada Juli 2025 tercatat sebesar 0,61 persen secara bulanan dan 2,25 persen secara tahunan.
Meski masih dalam cakupan sasaran nasional, tekanan dari komoditas pangan mulai terasa. Harga beberapa komoditas tercatat naik signifikan yakni beras, tomat, cabai rawit, ikan bandeng, dan emas perhiasan.
Secara regional, Parepare mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 4,05 persen, sedangkan Palopo mengalami inflasi bulanan tertinggi yaitu 0,94 persen.