Ekspor Sulsel Turun 4,5%, Impor Naik 5,43% Januari - Agustus 2026
Pelabuhan peti kemas - (foto by Dok Cleebesmedia.id)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Kinerja perdagangan luar negeri Sulawesi Selatan menunjukkan arah yang berbeda sepanjang Januari–Agustus 2026. Nilai ekspor melalui pelabuhan di Sulsel menurun, sementara impor justru meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Nilai ekspor Sulsel pada Januari–Agustus 2026 tercatat US$1,02 miliar, turun 4,50 persen atau sekitar US$48,11 juta dibanding periode yang sama 2025.
Penurunan ekspor terutama dipicu anjloknya pengiriman besi dan baja. Nilai ekspor komoditas ini turun US$139,34 juta atau 63,88 persen. Penurunan juga terjadi pada kelompok kopi, teh dan rempah-rempah serta nikel.
Kondisi tersebut cukup menekan kinerja ekspor Sulsel karena besi dan baja menjadi salah satu komoditas utama perdagangan luar negeri daerah.
Di sisi lain, sejumlah komoditas masih mencatat pertumbuhan. Daging dan ikan olahan menjadi kelompok dengan kenaikan terbesar, yakni US$16,31 juta atau 107,34 persen dibanding Januari–Agustus 2025.
Pada Agustus 2026 saja, ekspor Sulsel mencapai US$161,66 juta, turun 7,77 persen dibanding Juli. Nikel masih menjadi komoditas ekspor terbesar dengan nilai US$78,28 juta atau 48,42 persen dari total ekspor bulan tersebut.
Jepang dan Tiongkok menjadi pasar utama. Sepanjang Januari–Agustus 2026, ekspor ke Jepang mencapai US$603,28 juta, sedangkan ke Tiongkok sebesar US$310,71 juta. Taiwan berada di posisi berikutnya dengan US$23,38 juta.
Ketiga pasar tersebut menyerap sekitar 91,75 persen dari total ekspor Sulsel. Konsentrasi ini menunjukkan perdagangan ekspor Sulsel masih sangat bergantung pada sejumlah pasar utama.
Impor Sulsel Naik
Berbeda dengan ekspor, impor Sulsel sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$647,71 juta, naik 5,43 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan impor terutama berasal dari olahan makanan hewan yang bertambah US$35,15 juta atau 37,74 persen, bahan bakar mineral yang naik US$25,06 juta atau 37,27 persen, serta gandum-ganduman yang meningkat US$25,03 juta atau 21,37 persen.
Pada Agustus 2026, nilai impor mencapai US$83,56 juta. Angka tersebut memang turun 29,33 persen dibanding Agustus 2025 yang mencapai US$118,24 juta, tetapi secara kumulatif delapan bulan masih tumbuh.
Gandum-ganduman menjadi komoditas impor terbesar pada Agustus dengan nilai US$23,51 juta, disusul olahan makanan hewan US$19,83 juta dan gula serta kembang gula US$12,57 juta.
Australia menjadi sumber impor terbesar dengan nilai US$31,84 juta atau 38,10 persen. Tiongkok US$14,77 juta dan Argentina US$9,23 juta.
