KOLOM ANDI SURUJI : Efek Hormuz Cubit Dompet Emak-emak
PERANG Amerika-Israel (AmIs) versus Iran masih terus
membara. Saling klaim dan ancam mengancam kedua kubu tak berhenti.
Sudah berlangsung satu bulan lebih. Tetapi akhir dari perang
dramatis yang mencabik perikeadilan dan perikemanusiaan itu pun belum jelas.
Selat Hormuz masih ditutup oleh Iran. Sudah ada kapal
pengangkut minyak bumi dan gas alam cair yang bisa lewat. Buah kebaikan hati
pemerintah Iran. Tetapi masih sangat terbatas.
Masih banyak sekali kapal yang antre mau lewat. Tetapi tidak
berani karena belum mendapat kode dari pihak Iran.
Inilah masalahnya. Sekaligus membangun kesadaran kolektif
global baru. Bahwa Iran, meski diembargo lebih empat dekade oleh Amerika dan
sekutunya, tetapi ia adalah kekuatan (power) besar. Pemegang kunci geopolitik
dan geoekonomi global.
Kebijakannya membuat dunia bergejolak. Tak ubahnya gunung
api yang memendam kekuatan amat dahsyat. Letusannya menciptakan tsunami ekonomi
mematikan.
Ya, Selat Hormuz kunci itu. Sekitar 20 persen angkutan
minyak bumi kebutuhan dunia harus lewat Hormuz. Sekitar 30 persen gas alam cair
(LNG - Liquified Natural Gas). Bahkan sampai 40 persen kebutuhan pupuk
urea/nitrogen dunia.
Banyak di antara kita masih membahas sudut makro dampak
perang. Minyak mentah dan gas bumi yang bersumber dari Timur Tengah. Hebohlah
masyarakat soal kenaikan harga bahan balar minyak (BBM). Padahal produk lainnya
juga terancam kritis dan krisis.
Memang sekitar 65-75 persen minyak mentah diolah menjadi
bahan bakar. Sisanya diolah menjadi bahan kimia dan berbagai produk
plastik. Ia menghasilkan lebih dari enam ribu produk turunan
dari yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Produk ini dihasilkan melalui penyulingan dan proses
petrokimia, mencakup plastik, bahan bakar, pakaian, kosmetik, hingga peralatan
rumah tangga.
Belum lagi produk turunan LNG yang meliputi komponen
hidrokarbon yang dipisahkan selama pemurnian gas alam, seperti propana, etana,
dan butana, yang kemudian diolah kembali. Produk-produk ini dimanfaatkan untuk
bahan bakar rumah tangga (LPG), bahan baku industri petrokimia, metanol, hingga
pupuk.
Contoh produk turunan minyak bumi:
* Bahan Bakar: Bensin (gasoline), solar
(diesel), minyak tanah (kerosin), avtur (bahan bakar pesawat), dan
LPG.
* Petrokimia (Plastik & Sintetis): Polietilena
(botol, kantong plastik), Polipropilena (kemasan makanan, suku cadang),
Polivinil Klorida (PVC/pipa), dan Polistirena.
* Serat Sintetis: Poliester, nilon, dan akrilik yang
digunakan untuk pakaian dan karpet.
* Produk Industri & Konsumen: Aspal, pelumas (oli),
lilin parafin, deterjen, pewarna, kosmetik (lipstik), dan petroleum
jelly.
Sampai di sini jelas, kan? Betapa Selat Hormuz salah satu
sumbu ekonomi global, dan kunci kehidupan umat manusia di atas planet bumi ini.
Diam-diam tanpa disadari banyak orang, efek Hormuz telah
merasuk ke kehidupan sehari-hari kita di Indonesia belakangan ini. Mungkin
luput dari pengamatan kita.
Anda yang tinggal di Makassar, ada berita mengejutkan yang
dirilis surat kabar Tribun Timur, edisi Senin (6/4/2026). Dari reportase
wartawannya, diberitakan bahwa harga berbagai produk berbahan plastik di
Makassar melonjak.
Kenaikan harga produk itu bahkan ada yang mencapai hingga 50
persen. Mulai dirasakan memukul para pelaku usaha kecil yang bergantung pada
kemasan plastik. Tentu juga sudah terasa mencubit dompet emak-emak.
Pantauan Tribun di salah satu toko bahan plastik, hampir
seluruh produk plastik melonjak harganya sejak akhir Maret.
Kantong plastik tahan panas ukuran 400 gram misalnya, kini
dijual Rp24 ribu, naik dari harga awal Rp14.500. Ukuran kecil yang umum dipakai
pedagang bakso, naik dari Rp10.500 menjadi Rp12.500.
Kotak mika untuk kemasan makanan seperti kini dibanderol
Rp21 ribu untuk 100 helai dari Rp17 ribu. Harga yang ukuran lebih besar ikut
terkerek dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu.
Gelas cup kemasan minuman juga naik drastis. Dari Rp8.000
kini menjadi Rp14.500 untuk 50 buah. Thinwall, wadah plastik makanan naik dari
Rp28 ribu men jadi Rp33.500 isi 25 picis ukuran 200 ml. "Bahkan karung pun
naik harga nya," ujar seorang pegawai toko.
Kenaikan harga produk ini mulai dirasakan pelaku usaha
kecil. Fadel, pengusaha minuman kopi asal Kabupaten Gowa, mengaku kenaikan
harga plastik menambah beban biaya produksinya, sementara menaikkan harga bukan
pilihan tepat karena kondisi konsumen juga tertekan kenaikan harga lainnya.
Tentu ada jutaan "fadel-fadel" lain yang sama
kebingungannya. Jutaan orang, terutama emak-emak pun mulai pusing menggerutu
soal kenaikan harga bahan kebutuhan, yang tidak masuk akalnya berkaitan dengan
perang Amis-Iran tetsebut.
Demikianlah dampak perang itu. Bahkan sudah lebih dulu
memgacaukan biaya produksi pengusaha mikro, merobek kantong dan dompet
emak-emak, sebelum menjebol pundi-pundi negara.
Pemerintah musti menuliskan resep ketahanan ekonomi dan
keuangan negara dan rakyatnya. Mungkin harus ada pil pahit yang harus ditelan,
tetapi dosisnya harus proporsional. Bukan pukul rata yang justru mematikan
rakyat kecil dan miskin.
