Rupiah Melemah Tipis, Imbas Pelanggaran Gencatan Senjata

Ilustrasi Rupiah dan Dollar AS - (foto by ANTARA FOTO)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (9/4) pagi. 

Rupiah tercatat turun sebesar 18 poin atau sekitar 0,11 persen ke level Rp17.030 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.012 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu faktor utama berasal dari memanasnya kembali konflik di Timur Tengah, khususnya setelah adanya serangan yang diklaim melanggar kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.020 - Rp17.080 dipengaruhi oleh meningkatnya kembali tekanan eksternal setelah klaim Iran terhadap pelanggaran kesepakatan gencatan senjata terkait serangan Israel ke Lebanon, sehingga memicu harga minyak naik,” ucapnya, dikutip dari  ANTARA, Kamis.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia yang kemudian memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. 

Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih berada dalam rentang Rp17.020 hingga Rp17.080 per dolar AS.

Situasi global semakin tidak stabil setelah laporan serangan udara besar di wilayah Beirut dan sekitarnya. Hal ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar dan mendorong mereka untuk cenderung memilih aset yang lebih aman, seperti dolar AS.

Di sisi lain, dari dalam negeri, beberapa indikator ekonomi juga belum cukup kuat untuk menopang nilai tukar rupiah.

Cadangan devisa Indonesia tercatat mengalami penurunan sebesar 3,7 miliar dolar AS menjadi 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026.

Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia yang hanya mencapai 1,2 miliar dolar AS juga berada di bawah ekspektasi pasar. Angka ini dinilai belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi penguatan rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan bersikap hati-hati dalam beberapa waktu ke depan, sehingga pergerakan rupiah cenderung fluktuatif.