Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi Rp8.043 Triliun Mei 2026

Ilustrasi - (foto by Gemini AI)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia meningkat pada Mei 2026. 

Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang diterbitkan BI bersama Kementerian Keuangan, nilai ULN mencapai 444,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp8.043,64 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 439,8 miliar dollar AS.

Meski meningkat, BI menilai kondisi utang luar negeri Indonesia tetap terjaga.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan kenaikan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan utang luar negeri sektor publik, yaitu pemerintah dan bank sentral, sementara kontraksi utang luar negeri swasta mulai berkurang.

"Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah," ujar Ramdan dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (15/7).

Posisi utang luar negeri pemerintah pada Mei 2026 tercatat sebesar 217,3 miliar dollar AS atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan. 

Angka tersebut relatif stabil dibandingkan pertumbuhan pada April 2026.

Peningkatan ini didorong oleh aliran dana masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, meski pemerintah tetap melakukan pembayaran utang luar negeri yang telah jatuh tempo.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang tepat waktu. Pengelolaan utang dilakukan secara hati-hati, terukur, dan fleksibel agar pembiayaan negara tetap efisien. Sebagian besar utang pemerintah merupakan utang jangka panjang.

Dana dari utang luar negeri pemerintah digunakan untuk mendukung berbagai sektor produktif. Porsi terbesar dialokasikan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6 persen, pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen. 

Sementara itu, kenaikan utang luar negeri Bank Indonesia didorong oleh meningkatnya kepemilikan investor asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Di sisi lain, utang luar negeri swasta pada Mei 2026 tercatat sebesar 195,9 miliar dollar AS. Secara tahunan, nilainya masih mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen, namun lebih baik dibandingkan April 2026 yang terkontraksi 0,5 persen.

Perbaikan tersebut terutama berasal dari kelompok lembaga keuangan yang mencatat kontraksi lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar utang luar negeri swasta. Keempat sektor tersebut memiliki porsi sekitar 79,9 persen dari total utang luar negeri swasta. Utang swasta juga masih didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa 74,9 persen.

Secara keseluruhan, utang luar negeri Indonesia masih didominasi utang jangka panjang yang mencapai 83,9 persen dari total ULN.