Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo - (foto by tangkapan layar kanal YouTube Bank Indonesia)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026. 

Meski demikian, bank sentral meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada dalam kisaran 4,9-5,7 persen pada tahun ini.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan kenaikan suku bunga telah mempertimbangkan keseimbangan antara pengendalian inflasi dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dalam mengukur takaran berapa BI-Rate naik, tentu saja kami mempertimbangkan pertumbuhan, bagaimana pertimbangan yang seimbang antara pengendalian inflasi sesuai sasaran dan dampak yang tentu saja tidak terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI yang juga dihelat via daring, Rabu (20/5).

Menurut Perry, BI juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, terutama terkait kebijakan fiskal guna menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan.

“Kami tegaskan bahwa dalam mengukur BI-Rate 50 bps, kami juga menakar bahwa mampu mengendalikan inflasi dalam sasaran dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masih tetap berada dalam kisaran sasaran 4,9 sampai 5,7 persen,” ujarnya.

BI menilai tekanan inflasi masih perlu diantisipasi, terutama akibat kenaikan harga minyak dan komoditas global yang berpotensi mendorong imported inflation. Indonesia dinilai masih bergantung pada impor bahan baku dan material dari luar negeri.

Selain itu, penyesuaian harga energi non-subsidi juga dinilai turut memberi tekanan terhadap inflasi domestik.

Perry menegaskan kenaikan BI-Rate tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi juga memastikan inflasi tetap terkendali pada kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026-2027.

“Itulah kenapa kenaikan BI-Rate 50 bps ini kami meyakini mampu membawa perkiraan inflasi 2026-2027 akan berada tetap berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen yang ditetapkan pemerintah,” kata Perry.

Di tengah tingginya ketidakpastian global, BI memandang momentum pertumbuhan ekonomi domestik tetap harus dijaga. Ke depan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan tetap kuat didukung optimalisasi belanja pemerintah dan sinergi bauran kebijakan BI, termasuk pelonggaran makroprudensial serta penguatan sistem pembayaran untuk mendukung ekonomi digital dan keuangan inklusif.

Dalam RDG Mei 2026, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 50 bps menjadi 4,25 persen dan lending facility sebesar 50 bps menjadi 6 persen.

Kenaikan BI-Rate ini menjadi penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025. Sebelumnya, sepanjang 2025 BI telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan mencapai 125 bps.