Minyak Mentah Tembus 100 Dolar AS, Bursa Saham Rontok

Ilustrasi - (foto by Pixabay)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Harga minyak mentah di pasar global menlonjak tebus 100 dolar AS per barrel, sementara harga saham di berbagai bursa Asia, Senin (9/3) pagi berjatuhan dipicu sentimen pasar yang negatif terkait kondisi pengapalan melalui Selat Hormuz.

Di pasar Asia, Senin pagi, minyak mentah jenis Brent hampir 24 persen lebih tinggi pada posisi 114,74 dolar AS per barrel, sementara minyak mentah ringan Nymex naik lebih tinggi sekitar 26 persen di harga 114,78 dolar per barrel.

Bursa saham di kawasan Asia Pasifik anjlok tajam pada pagi hari. Di Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia Senin pagi, menyentuh level terendah minus 5,2% ke level 7.156.

Sebanyak 449 saham turun, 57 naik, dan 158 tidak bergerak dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,5 triliun. Dalam sepekan lalu, IHSG terjun nyaris 8% hanya dalam seminggu, mencatat pelemahan terburuk melampaui MSCI Crash akhir Januari lalu.

Indeks Nikkei 225 bursa Tokyo Jepang anjlok 7 persen, Hang Seng Hongkong tutup tengah hari lebih 3 persen dan indeks ASX 200 di Australia lebih 4 persen.

Indeks Kospi di bursa saham Korea Selatan, yang memang telah terdampak sejak konflik terjadi anjlok lebih dari 8 persen dan memicu dilakukannya penghentian sementara perdagangan selama 20 menit.

Penghentian sementara perdagangan (tading halt) merupakan mekanisme sirkuit yang didesain untuk mengendalikan terjadinya kepanikan jual (panic selling) yang memicu anjloknya harha saham. Akan tetapi kondisi itu juga dinilai dipicu dari efek kejadian Rabu saat Kospi anjlok 12 persen.

Iran pada Ahad menetapkan Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Penetapan Mojtaba dinilai pelaku pasar memberi signal bahwa garis keras masih berkuasa di Iran.

Gelombang serangan baru Israel dan Amerika Serikat pekan lalu, menyasar multi target termasuk depot-depot minyak Iran. Menurut laporan BBC, Suplai energi dari kawasan yang anjlok akan jadi ancaman mendorong lonjakan harga bagi konsumen dan dunia usaha di seluruh dunia.