Suku Bunga Acuan Tetap 5,75%, Strategi BI Hadapi Tekanan Global

Gubernur BI Destry Damayanti saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/9) sore - (foto by tangkapan layar kanal YouTube Bank Indonesia)

CELEBESMEDIA.ID, MakassarBank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode September 2026 yang berlangsung pada 22-23 September.

BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,5 persen.

Keputusan tersebut diambil di tengah tekanan ekonomi global yang masih kuat, terutama ketidakpastian pasar keuangan dan pergerakan nilai tukar. BI perlu menjaga stabilitas rupiah sekaligus memastikan kebijakan moneter tetap mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, di Jakarta, yang dipantau melalui Live Streaming Kanal YouTube Bank Indonesia, Rabu (23/9) sore.

Keputusan mempertahankan BI Rate tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Pergerakan suku bunga global, penguatan dolar AS, gejolak harga komoditas, serta ketegangan geopolitik dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Karena itu, BI perlu menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus mengantisipasi tekanan terhadap nilai tukar.

Dalam penetapan suku bunga acuan tersebut, BI menghadapi dilema. Jika suku bunga terlalu rendah, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat ketika investor global memilih aset berdenominasi dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor dan memberikan tekanan terhadap inflasi.

Sebaliknya, suku bunga yang terlalu tinggi dapat meningkatkan pembiayaan bagi masyarakat dan dunia usaha sehingga konsumsi serta investasi berpotensi melambat.

Karena itu, keputusan BI mempertahankan BI Rate 5,75 persen menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Dalam konfrensi pers tersebut, BI juga menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan. Inflasi juga masih berada dalam sasaran BI.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga sembari tetap mencermati perkembangan ekonomi global.