Gencatan AS-Iran Dorong Rupiah dan IHSG Menguat

Ilustrasi Rupiah dan Dollar AS - (foto by freepik)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Nilai tukar rupiah menguat signifikan pada penutupan perdagangan Rabu (8/4/2026), seiring meredanya ketegangan global setelah gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.

Rupiah tercatat menguat 93 poin atau 0,54 persen menjadi Rp17.012 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.105 per dolar AS. 

Penguatan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global yang lebih stabil.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menilai bahwa meredanya konflik internasional membuat tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia ikut berkurang.

"Ketidakpastian global berkurang kan, (Iran dan AS) itu berdamai. Otomatis rupiah menguat, dan IHSG hampir 3 persen tadi. Kalau global, dan bagus kondisinya jadi kalau sentimen hilang, ya sudah, kelihatan lagi fondasi dasar," jelas Prubaya dikutip dari Kompas.com, Rabu (8/4/2026).

Dalam kondisi global yang lebih tenang, investor cenderung kembali masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Dampaknya, permintaan terhadap rupiah meningkat sehingga nilainya ikut naik.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah mata uang Asia lainnya seperti baht Thailand, yuan China, peso Filipina, yen Jepang, dan won Korea Selatan juga mengalami penguatan di kisaran 0,78 persen hingga 1,59 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor utama penggerak pasar saat ini adalah sentimen global, bukan faktor domestik semata. 

Selain rupiah, pasar saham Indonesia juga mencatat lonjakan tajam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 308,18 poin atau 4,42 persen ke level 7.279,2.

Kenaikan ini mengembalikan IHSG ke level 7.000 setelah sebelumnya sempat melemah ke kisaran 6.000. Penguatan ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya membeli rupiah, tetapi juga kembali masuk ke pasar saham.

Secara sederhana, kondisi ini terjadi karena adanya efek berantai di pasar keuangan. Ketika risiko global menurun, investor merasa lebih aman untuk menempatkan dana mereka. Aliran modal yang masuk ini kemudian mendorong penguatan rupiah sekaligus kenaikan harga saham.

Aktivitas perdagangan di bursa juga terbilang tinggi. Volume transaksi mencapai 40,1 miliar lembar saham dengan nilai Rp22,49 triliun dan frekuensi 2,39 juta kali transaksi.

Mayoritas saham ditutup di zona hijau, dengan 652 saham menguat, 108 saham melemah, dan 198 saham stagnan.

Penguatan rupiah dan IHSG ini menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya cukup kuat. Namun, selama ini sering tertutup oleh sentimen global seperti konflik geopolitik.