Ada Doa yang Bermekaran di Balik Manisnya Jompo-Jompo
Ilustrasi kue tradisional Jompo-jompo - (int)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah deretan penganan manis modern yang memanjakan mata, ada satu kue tradisional Bugis yang menyimpan kenangan dan filosofi mendalam.
Namanya jompo-jompo. Sekilas, bentuknya sederhana dan bersahaja dengan balutan warna cokelat keemasan.
Namun, bagi masyarakat Bugis, keberadaan kue ini jauh melebihi fungsinya sebagai penawar lapar. Ia adalah simbol, harapan, dan doa yang diwujudkan dalam tiap gigitan.
Jika dilihat sepintas, rupa jompo-jompo memiliki kemiripan yang sangat dekat dengan kue cucur. Permukaannya cenderung berserat khas dengan bagian pinggir yang sedikit renyah.
Tak heran bila penganan ini kerap disebut-seban sebagai salah satu variasi kue cucur dalam tradisi kuliner Sulawesi Selatan.
Keistimewaan jompo-jompo terletak pada perpaduan bahan dasarnya yang sangat membumi.
Terbuat dari adonan tepung beras (atau tepung ketan/terigu), gula merah aren, serta air kelapa segar yang memberikan sentuhan aroma manis dan gurih alaminya.
Proses pembuatannya menuntut ketelatenan tersendiri, adonan diaduk hingga mencapai tekstur yang tepat, lalu digoreng di atas wajan dengan minyak panas sedang hingga matang sempurna.
Namun, hal paling memikat dari kudapan ini terletak pada makna di balik namanya. Dalam bahasa Bugis, kata jompo mengandung arti "muncul" atau "datang".
Pengulangan kata menjadi jompo-jompo menghadirkan gambaran melimpah tentang sesuatu yang hadir berulang kali.
Dari penceritaan nama inilah, masyarakat Bugis menyitir sebuah kebaikan, harapan agar rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan senantiasa muncul beruntun tanpa putus.
Filosofi tersebut menjadikan jompo-jompo bukan sekadar suguhan pelengkap di atas bosara—wadah saji khas Bugis untuk memuliakan tamu.
Kudapan ini memegang peran penting dalam tradisi Beppa Pitunrupa, yaitu susunan tujuh jenis kue tradisional yang wajib ada dalam acara syukuran, seperti pada masyarakat Parepare.
Bersama beppoto’, sawella, bua seppang, lemo gempa, lana-lana, dan onde-onde, jompo-jompo hadir memanjatkan doa simbolis kepada Sang Pencipta.
Tak hanya itu, kue ini juga nyaris tak pernah absen dalam ritual menre bola baru atau prosesi memasuki rumah baru.
Melalui jompo-jompo, tuan rumah menyampaikan puji syukur sekaligus menaruh doa agar hunian anyar tersebut senantiasa dilimpahi keberkahan, terhindar dari marabahaya, serta terus dimunculkan kedamaian bagi para penghuninya.
Sayangnya, di tengah gempuran tren kuliner modern, jompo-jompo kini tak lagi mudah ditemukan di etalase toko pastry maupun pasar-pasar umum.
Perubahan selera generasi muda dan kerumitan teknik pembuatan tradisional membuat resep warisan ini perlahan kehilangan ruang di tengah masyarakat urban.
Kehadirannya kini lebih sering dijumpai terbatas di lingkup kampung, hajatan adat, atau momen-momen keluarga.
Kendati demikian, napas jompo-jompo belum sepenuhnya redup. Berbagai upaya pelestarian terus mengemuka.
Akademisi seperti di Universitas Negeri Makassar (UNM) kerap menghadirkan jompo-jompo dalam program pelatihan serta pameran kuliner tradisional untuk mengenalkan kembali kekayaan gastronomi lokal kepada generasi muda.
Pada akhirnya, jompo-jompo memberi kita pelajaran berharga bahwa makanan tradisional Bugis adalah bahasa simbol yang jujur.
Di balik paduan tepung dan manisnya gula aren, tersemat pesan sederhana namun abadi, bahwa dalam setiap rasa syukur yang dirayakan, selalu ada doa agar hal-hal baik senantiasa jompo—terus datang dan bermunculan dalam perjalanan hidup kita.
