Jejak Portugis dalam Sepotong Apang Paranggi
Apang Paranggi - (int)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Aroma manis gula merah bercampur wangi khas adonan panggang hangat langsung menyapa tiap kali cetakan apang paranggi baru saja diangkat dari atas bara api.
Bagi masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan, kue tradisional berkulit cokelat keemasan dan bertekstur empuk ini bukan sekadar penganan pasar pagi, melainkan rekam jejak sejarah yang melintasi zaman.
Nama "paranggi" sendiri menyimpan cerita menarik. Dalam literatur sejarah lokal Makassar, kata ini merujuk pada sebutan bagi bangsa Portugis yang menginjakkan kaki di pesisir Tanah Sulawesi pada abad ke-17.
Konon, kue yang juga dikenal dengan sebutan bolu paranggi ini lahir dari persilangan budaya—mengadaptasi teknik pembuatan kue bolu ala Eropa namun diolah menggunakan bahan-bahan lokal serta dipanggang di atas cetakan tradisional.
Proses pembuatannya membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Adonan dasarnya memanfaatkan racikan tepung beras, tapai singkong sebagai pengembang alami, air kelapa, dan lelehan gula merah lokal.
Tapai singkong dan gula merah diaduk rata bersama adonan, lalu didiamkan hingga mengembang dan mengeluarkan aroma fermentasi lembut yang manis-gurih.
Tahap krusial terletak pada cara memasaknya. Adonan dituang ke dalam cetakan logam khusus yang telah dipanaskan di atas bara api atau kompor.
Proses memanggang ini menghasilkan keunikan tekstur apang paranggi, bagian luar berkulit renyah dengan sentuhan aroma karamelisasi gula merah yang khas, sementara bagian dalamnya tetap lembut, empuk, dan bersarang.
Kehadiran apang paranggi sangat fleksibel dalam kehidupan sehari-hari. Ia kerap terlihat mendampingi cangkir-cangkir kopi hitam di kedai tradisional, disajikan hangat saat perayaan upacara adat, hingga menjadi buruan utama takjil saat bulan Ramadan.
Kesederhanaan bahan, teknik panggangan yang khas, dan kekayaan rasanya membuktikan bahwa kuliner tradisional ini mampu bertahan melintasi ratusan tahun tanpa kehilangan tempat di hati penikmatnya.
