Bolu Cukke, Bekal Perantau Bugis yang Sarat Filosofi

Ilustrasi Kue Bolu Cukke - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di balik bentuknya yang sederhana dan cita rasa manis gula merah, Bolu Cukke menyimpan cerita panjang tentang perjalanan kuliner masyarakat Bugis.

Kue tradisional ini tidak sekadar dikenal sebagai kudapan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas pangan dan aktivitas sosial masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

Bolu Cukke dikenal sebagai kue berbahan dasar tepung beras dan gula merah. Keberadaannya antara lain tercatat sebagai salah satu kuliner tradisional di Sulsel.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan juga mencatat Bolu Cukke sebagai salah satu kuliner khas yang dapat ditemukan di Kabupaten Bone.

Di Pinrang, Bolu Cukke bahkan berkembang sebagai produk usaha masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya pelaku industri skala menengah yang memproduksi Bolu Cukke.

Hal ini menunjukkan bahwa kue tradisional tersebut tidak hanya bertahan sebagai warisan kuliner, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Dalam kisah yang berkembang di tengah masyarakat, Bolu Cukke juga lekat dengan tradisi perantauan orang Bugis.

Kue ini disebut pernah dibawa sebagai bekal oleh mereka yang melakukan perjalanan jauh atau berlayar, sekaligus menjadi buah tangan ketika kembali maupun berkunjung kepada keluarga.

Ketahanannya sebagai bekal membuat Bolu Cukke memiliki kedekatan dengan karakter masyarakat Bugis yang dikenal memiliki tradisi merantau.

Jejak budaya perantauan itu sendiri masih terlihat hingga kini melalui kuatnya komunitas Bugis di berbagai daerah di luar Sulsel.

Proses pembuatannya pun menyimpan cerita tersendiri. Dalam perkembangan awalnya, kue tersebut disebut pernah dicoba dimasak menggunakan wajan.

Namun, hasil yang diperoleh belum sesuai harapan sehingga masyarakat kemudian mencari bentuk dan media pemanggangan yang lebih tepat.

Dari proses coba-coba itulah cara pembuatan Bolu Cukke terus berkembang hingga menghasilkan bentuk yang dikenal sekarang.

Namun, daya tarik Bolu Cukke tidak berhenti pada rasa. Bagi sebagian masyarakat Bugis, bahan-bahan yang menyusun kue tersebut juga dapat dibaca sebagai simbol kehidupan.

Tepung beras, misalnya, berangkat dari beras yang menjadi pangan pokok. Beras memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat agraris Bugis karena keberadaannya berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar manusia.

Dalam pemaknaan tradisional, beras kemudian ditempatkan sebagai simbol kekuatan dan sumber kehidupan.

Makna serupa muncul dari gula merah. Rasa manisnya tidak hanya memberikan karakter utama pada Bolu Cukke, tetapi juga dimaknai sebagai unsur yang memperkuat cita rasa.

Filosofinya menggambarkan keyakinan bahwa sesuatu yang sederhana dapat menjadi lebih bernilai ketika unsur-unsurnya menyatu dengan baik.

Dari sana, Bolu Cukke dapat dipandang sebagai gambaran kecil tentang cara masyarakat Bugis memaknai kehidupan, kekuatan berasal dari sesuatu yang menjadi dasar, sementara kebaikan dan rasa manis lahir dari perpaduan berbagai unsur.

Karena itu, Bolu Cukke bukan sekadar kue tradisional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di dalamnya terdapat cerita tentang pangan, perjalanan, keluarga, kreativitas, dan cara masyarakat Bugis memberi makna pada bahan-bahan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kini, ketika Bolu Cukke telah berkembang menjadi produk kuliner dan usaha masyarakat, warisan tersebut mendapatkan ruang baru.

Bentuknya boleh beradaptasi dengan zaman, tetapi cerita di baliknya tetap menjadi bagian penting dari kekayaan kuliner Bugis dan Sulawesi Selatan.