Pallu Butung, Jejak Kuliner Abad ke-17 dari Krisis Pangan

Ilustrasi - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah teriknya cuaca pesisir Sulawesi Selatan, tak ada yang lebih nikmat dibanding mengeduk semangkuk sajian dingin yang memadukan gurihnya santan, kelembutan bubur tepung beras, manisnya potongan pisang raja, dan siraman sirup merah yang harum.

Sepintas, racikan ini sering tertukar dengan saudaranya, Es Pisang Ijo. Namun bagi masyarakat Bugis-Makassar, Pallu Butung memiliki identitas tersendiri yakni jujur, tampil tanpa balutan kulit hijau, serta menyimpan riwayat panjang tentang daya tahan dan kreativitas.

Nama Pallu Butung lahir dari persilangan istilah lokal yang sarat makna. Kata pallu dalam bahasa Makassar bermakna masakan atau hidangan, sementara butung (atau utti/uttung) dalam rumpun bahasa setempat mengacu pada pisang yang telah matang sempurna di pohon.

Dalam sebutan tradisional Bugis, sajian ini kerap dikenal sebagai Bella Butung.

Secara harfiah, Pallu Butung merujuk pada olahan pisang matang yang dimasak bersama santan dan tepung.

Kesederhanaan penamaan ini mencerminkan karakter kulinernya yang lugas, mengedepankan kualitas manis alami dari buah pisang tanpa perlu banyak rekayasa.

Dikutip dari berbagai sumber, di balik rasa manisnya yang memanjakan lidah, sejarah mencatat Pallu Butung sebagai bukti kecerdikan masyarakat Sulawesi Selatan dalam menghadapi krisis.

Hidangan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-17, periode ketika kawasan pesisir Celebes kerap berkecamuk oleh konflik peperangan dan penjajahan.

Kala itu, pasokan beras—makanan pokok masyarakat—mengalami kelangkaan hebat akibat terganggunya jalur perdagangan dan lahan pertanian.

Demi mengganjal perut dan mempertahankan energi, para perempuan di perkampungan memutar otak.

Mereka memanfaatkan tanaman pisang yang tumbuh subur di pekarangan dan memadukannya dengan stok simpanan tepung beras serta perasan santan kelapa.

Tekstur bubur santan yang kental dikombinasikan dengan pisang matang kukus menghasilkan hidangan padat gizi yang mengenyangkan.

Dari sebuah solusi bertahan hidup di tengah krisis pangan, sajian darurat ini perlahan menjelma menjadi kuliner favorit yang dicintai lintas generasi.

Seiring berjalannya waktu, kedudukan Pallu Butung bergeser dari makanan krisis menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan.

Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, hidangan ini tidak sekadar pencuci mulut. Pallu Butung kerap hadir pada momen-momen penting keluarga, seperti upacara pernikahan tradisional hingga ritual Mappatettong Bola (pesta adat mendirikan rumah baru).

Saat bulan suci Ramadan tiba, panggung utama Pallu Butung kian terasa. Aroma pandan yang menguar dari bubur santan hangat yang dipadu rasa manis sirup menjadi penanda takjil ideal setelah seharian berpuasa.

Menariknya, Pallu Butung bersifat fleksibel: ia nikmat disantap hangat saat cuaca dingin, namun tak kalah menyegarkan ketika disajikan bersama bongkahan es serut di tengah terik siang.

Hingga hari ini, semangkuk Pallu Butung bukan cuma tentang lezatnya perpaduan santan, pisang, dan sirup merah.

Di setiap sendoknya, ada narasi tentang adaptasi, warisan rasa abad ke-17, dan cara masyarakat Bugis-Makassar merayakan kehidupan lewat kesederhanaan.