Pisang Epe, Konon dari Meja Bangsawan hingga Gerobak Losari

Ilustrasi - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Menjelang petang, gerobak-gerobak penjual pisang epe mulai bersiap di sepanjang Anjungan Pantai Losari.

Para pedagang umumnya membuka lapak sekitar pukul 17.00 WITA, pas ketika pengunjung berdatangan menunggu matahari terbenam.

Bara di anglo dinyalakan, pisang diletakkan di atasnya, dan aroma manis bakaran mulai menyebar di tepi pantai.

Begitulah camilan sederhana ini menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah Kota Makassar.

Pisang epe adalah pisang yang dibakar lalu dipipihkan. Kata "epe" dalam bahasa Makassar berarti dijepit atau dipipihkan, merujuk pada alat penjepit dua bilah papan kayu berengsel yang menjadi ciri khasnya.

Bahan utamanya biasanya pisang kepok yang belum terlalu matang, meski sebagian penjual memilih pisang raja karena teksturnya tidak mudah lembek.

Pisang dikupas dan dibakar di atas bara, kadang dengan olesan mentega, lalu dijepit hingga pipih dan dibakar kembali sampai permukaannya kecokelatan.

Hidangan ini disiram saus gula merah cair yang menjadi cita rasa aslinya.

Soal asal-usul, sejarahnya tidak sepenuhnya terang. Belum ada sumber tertulis yang cukup kuat untuk memastikan tahun kemunculan pisang epe maupun siapa yang pertama menciptakannya.

Meski begitu, sejumlah rujukan mengaitkannya dengan masa Kerajaan Gowa-Tallo. Merujuk pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, jajanan ini disebut sudah dinikmati para bangsawan kerajaan itu pada abad ke-16 hingga ke-19.

Kesaksian lain datang dari para pedagang, seperti seorang penjual di Losari yang mengaku keluarganya menjual pisang epe secara turun-temurun sejak 1930-an.

Yang lebih jelas tercatat adalah masa ketika pisang epe naik daun. Popularitasnya melonjak sekitar 1970-an, bersamaan dengan Pantai Losari yang mulai menjadi ikon kota dan kian banyak pedagang kaki lima bermunculan.

Sejak itu, pisang epe dan Losari nyaris tak terpisahkan. Jumlah gerobaknya kini mencapai puluhan hingga ratusan, dan makin ramai pada musim liburan.

Penjual juga bisa ditemui di kawasan lain, seperti Jalan Ali Malaka dan Jalan Lamadukelleng.

Seiring waktu, pisang epe berkembang lebih beragam. Selain gula merah, kini tersedia topping cokelat, keju, hingga durian yang banyak diburu pengunjung.

Sebagian orang menyantapnya bersama sarabba, minuman hangat khas Makassar yang pedas, sehingga rasanya berpadu dengan manis pisang.

Pisang epe pun tak lagi hanya jajanan pinggir pantai. Kuliner ini menjadi salah satu ikon wisata kuliner Makassar yang dicari wisatawan dari berbagai daerah.