Taloba, Kue Kuning yang Menyimpan Jejak Istana Bone

Ilustrasi kue Taloba - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di antara riuhnya kue-kue tradisional Sulawesi Selatan yang lebih dulu akrab di lidah orang banyak—bolu peca, sikaporo, atau kue lapis—ada satu nama yang justru terdengar asing bahkan bagi sebagian warga Bugis-Makassar sendiri, Taloba.

Warnanya kuning menyala, teksturnya lembut dan padat sekaligus, serta aromanya begitu khas karena bahan utamanya bukan tepung, melainkan kuning telur bebek pilihan.

Dikutip dari berbagai sumber, kue ini bernama Taloba, dengan ciri khas warna kuning telurnya yang mencolok, dan resepnya diciptakan oleh Mane'ne Karengta Ballasari, permaisuri Raja Bone ke-32, sekitar tahun 1930-an.

Bukan kebetulan jika kue ini lahir dari tangan seorang permaisuri. Dalam pengerjaannya, Taloba selalu berada di bawah pengawasan langsung sang permaisuri, bahkan tidak jarang beliau sendiri yang turun tangan agar takaran dan rasanya benar-benar pas.

Mulai dari pemilihan kuning telur bebek terbaik, penyaringan isi kuning telur dari selaputnya, jenis mentega yang dipakai, hingga kualitas kenari yang digunakan.

Ketelitian semacam ini bukan sekadar soal cita rasa. Pada masanya, bahan-bahan yang dipakai untuk membuat Taloba—terutama mentega dan krim—tergolong barang mewah yang tidak semua orang mampu membelinya.

Sehingga wajar bila kue ini awalnya hanya hadir di lingkungan keluarga kerajaan, jauh dari jangkauan dapur rakyat kebanyakan.

Yang menarik, meski usianya sudah hampir satu abad, Taloba tak pernah benar-benar menjadi kue rakyat.

Hingga kini, Kue Taloba masih belum banyak dikenal luas, bahkan oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sendiri, karena resepnya diwariskan turun-temurun hanya dalam lingkup keluarga tertentu sehingga sedikit orang yang benar-benar mengetahui resep aslinya.

Akibatnya, muncul berbagai versi keliru di tengah masyarakat—ada yang mengira Taloba dibuat dari tepung, kentang rebus, atau putih telur, padahal kue Taloba yang asli sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan tersebut.

Jejak kejayaan Taloba paling sering ditemukan bukan di pasar atau toko kue, melainkan di atas baki hantaran.

Teksturnya yang lembut namun kenyal membuat kue ini sangat pas disajikan pada acara-acara penting seperti pernikahan, biasanya berdampingan dengan kue-kue tradisional lain di baki seserahan.

Sampai sekarang, kue ini lebih sering dijumpai pada acara pernikahan di kalangan keturunan bangsawan Bugis-Makassar—seolah warisan bangsawan itu enggan sepenuhnya turun tahta.

Warna kuning keemasan pada Taloba bukan sekadar hasil dari banyaknya kuning telur bebek yang dipakai. Dalam banyak tradisi Nusantara, kuning kerap dimaknai sebagai lambang kemuliaan, kemakmuran, dan kehormatan—warna yang dahulu identik dengan kalangan istana.

Bila ditelusuri lebih jauh, ada semacam pesan tersirat dalam setiap gigitan Taloba, bahwa sesuatu yang berharga selalu lahir dari ketelatenan, bukan jalan pintas.

Proses menyaring kuning telur satu per satu dari selaputnya, memilih mentega terbaik, hingga memastikan kenari yang digunakan berkualitas tinggi—semua itu adalah bentuk penghormatan pada bahan, pada proses, dan pada orang yang akan menyantapnya kelak.

Filosofi itulah yang barangkali membuat Taloba pantas disebut lebih dari sekadar kudapan manis. Ia adalah representasi kecil dari nilai kebangsawanan Bugis, bahwa kemewahan sejati bukan tentang tampilan yang berlebihan, melainkan tentang kesungguhan tangan yang mengolahnya.

Nama Mane'ne Karengta Ballasari sendiri jarang disebut dalam catatan sejarah arus utama Kerajaan Bone, yang lebih banyak mengabadikan nama raja-raja dan peristiwa politik ketimbang urusan dapur istana.

Justru dari situ terasa istimewa, Taloba menjadi salah satu jejak langka yang menunjukkan bahwa perempuan di lingkaran istana Bugis abad ke-20 juga mewariskan pengaruhnya lewat cara yang lebih senyap—lewat racikan dan rasa, bukan lewat titah atau perjanjian.

Asal-usul nama "Taloba" sendiri, sayangnya, tidak sepopuler kisah penciptanya. Kue ini juga dikenal dengan sebutan "Toloba" di sejumlah daerah, sebuah variasi penyebutan yang lumrah terjadi pada kudapan lisan yang lebih banyak berpindah dari mulut ke mulut ketimbang dicatat dalam ejaan baku.

Yang jelas, sejak awal kemunculannya sekitar tahun 1930-an, kue ini melekat erat dengan wilayah adat Bugis di Bone dan menyebar mengikuti jalur pernikahan bangsawan.

Sebab pada masa itu, resep semacam ini biasa dibawa serta sebagai bagian dari "bekal" seorang perempuan bangsawan ketika menikah ke keluarga lain, sebagaimana lazimnya tradisi pewarisan resep di banyak rumah tangga Bugis-Makassar.

Dari sanalah Taloba perlahan menyebar dari satu keluarga bangsawan ke keluarga bangsawan lain, tanpa pernah benar-benar turun ke dapur rakyat kebanyakan.

Sebuah pola persebaran yang berbeda dari kebanyakan kue tradisional Nusantara, yang umumnya lahir dari dapur rakyat lalu naik ke meja perayaan besar.

Taloba justru menempuh jalur sebaliknya: lahir di istana, dan hingga kini masih setia pada asal-usulnya.